SUMA.ID – Serangan jantung di malam hari ternyata memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding siang hari. Simak penyebab, hasil penelitian terbaru, dan faktor yang membuat kondisi ini lebih mematikan.
Serangan Jantung di Malam Hari Ternyata Lebih Berbahaya
Serangan jantung di malam hari menjadi perhatian serius setelah sebuah penelitian besar di Amerika Serikat mengungkap fakta mengejutkan. Risiko kematian akibat henti jantung pada malam hingga dini hari ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan siang hari. Selama ini banyak orang mengira penyebab utamanya hanyalah ambulans yang datang lebih lambat atau minimnya orang yang bisa memberikan pertolongan. Namun penelitian terbaru menunjukkan masalahnya jauh lebih kompleks.
Studi yang dipimpin Joshua M. Kimbrell dari Albert Einstein College of Medicine, New York, menganalisis lebih dari 874 ribu kasus henti jantung di luar rumah sakit selama periode 2013 hingga 2024. Hasil penelitian tersebut menemukan adanya fenomena yang disebut sebagai “penalti waktu malam”, yakni penurunan peluang hidup pasien yang mengalami serangan jantung saat malam hari.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bahwa waktu kejadian sangat memengaruhi peluang keselamatan pasien, bahkan setelah memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, lokasi kejadian, hingga kondisi kesehatan lainnya.
Fakta Mengejutkan dari Penelitian Serangan Jantung di Malam Hari
Data penelitian menunjukkan peluang pasien untuk bertahan hidup dengan fungsi otak yang tetap baik turun drastis pada malam hari. Pada siang hari, tingkat keselamatan mencapai sekitar 9,3 persen. Namun saat malam hingga dini hari, terutama pukul 23.00 hingga 07.00, angka tersebut turun menjadi hanya 6,7 persen.
Kondisi paling kritis terjadi antara pukul 01.00 hingga 06.00 pagi. Pada jam-jam tersebut, pasien memiliki kemungkinan jauh lebih kecil untuk pulih sepenuhnya setelah mengalami henti jantung.
Bahkan setelah faktor-faktor lain dihitung secara statistik, pasien yang mengalami serangan jantung pada malam hari memiliki peluang 15 persen lebih rendah untuk keluar dari rumah sakit dalam kondisi sehat dibanding pasien yang mengalami kejadian serupa pada siang hari.
Temuan ini memperlihatkan bahwa malam hari menjadi waktu yang sangat rentan bagi pasien henti jantung.
Bukan Hanya Karena Ambulans Datang Terlambat
Selama ini banyak orang percaya bahwa keterlambatan ambulans menjadi penyebab utama tingginya angka kematian pada malam hari. Memang benar, layanan darurat biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba pada malam hingga dini hari. Namun ternyata faktor tersebut hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan masalah.
Peneliti menemukan bahwa keterlambatan ambulans hanya menjelaskan sekitar 12,6 persen dari kesenjangan tingkat keselamatan pasien. Artinya, masih ada sekitar 87 persen faktor lain yang belum sepenuhnya terungkap.
Hal menarik lainnya, bahkan ketika petugas medis menyaksikan langsung kejadian henti jantung, pasien yang mengalami serangan di malam hari tetap memiliki hasil medis lebih buruk dibanding siang hari.
Temuan ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang memengaruhi kualitas penanganan pasien selama malam hari.
Perawatan Rumah Sakit di Malam Hari Diduga Berpengaruh
Para peneliti menduga salah satu penyebab terbesar berasal dari perbedaan kualitas pelayanan rumah sakit pada jam-jam malam. Saat dini hari, jumlah tenaga medis biasanya lebih sedikit dibanding siang hari. Selain itu, beberapa layanan penting kemungkinan tidak bekerja secara maksimal.
Pasien yang tiba di rumah sakit pada malam hari memiliki peluang tujuh persen lebih rendah untuk pulang dengan kondisi otak yang baik, meskipun denyut jantung mereka berhasil dipulihkan.
Hal ini memperlihatkan bahwa penanganan setelah pasien tiba di rumah sakit juga memegang peranan penting dalam menentukan keselamatan pasien.
Minimnya CPR dan AED di Rumah Menjadi Masalah
Sebagian besar kasus henti jantung malam hari ternyata terjadi di rumah. Data penelitian menyebutkan sekitar 88,8 persen kejadian berlangsung di lingkungan rumah tangga.
Masalahnya, alat kejut jantung otomatis atau AED sangat jarang tersedia di rumah. Padahal alat tersebut sangat penting untuk meningkatkan peluang hidup pasien sebelum ambulans datang.
Selain itu, tingkat pemberian CPR atau bantuan napas buatan oleh keluarga maupun orang sekitar juga lebih rendah pada malam hari. Pada siang hari, CPR dilakukan sekitar 35,7 persen kasus. Namun saat malam hari, angkanya turun menjadi 33,1 persen.
Kondisi ini kemungkinan terjadi karena anggota keluarga sedang tidur, panik, atau terlambat menyadari kondisi darurat yang terjadi.
Pentingnya Kesadaran dan Respons Cepat
Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open ini menunjukkan bahwa kesenjangan keselamatan antara siang dan malam belum mengalami perbaikan berarti sejak 2013, meskipun teknologi medis terus berkembang.
Karena itu, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai tanda-tanda serangan jantung dan pentingnya CPR menjadi langkah yang sangat penting. Respons cepat dari keluarga atau orang terdekat dapat menjadi penentu hidup dan mati pasien sebelum bantuan medis tiba.
Para ahli juga menilai perlunya peningkatan layanan rumah sakit pada malam hari, termasuk kesiapan tenaga medis dan fasilitas penanganan darurat.
Dengan jumlah kasus henti jantung yang mencapai puluhan ribu setiap malam, peningkatan kecil dalam sistem pertolongan dapat menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun.
Serangan jantung di malam hari bukan hanya lebih berbahaya karena ambulans datang terlambat. Faktor lain seperti lambatnya deteksi keluarga, minimnya CPR, keterbatasan AED di rumah, hingga kualitas layanan rumah sakit pada dini hari turut memengaruhi tingginya angka kematian.
Penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa edukasi pertolongan pertama dan kesiapan layanan kesehatan harus terus ditingkatkan. Semakin cepat pasien mendapatkan bantuan, semakin besar peluang mereka untuk bertahan hidup dengan kondisi yang baik.












