BacaJuga
SUMA.ID – Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam indeks ketahanan energi dari 52 negara menurut lembaga keuangan JP Morgan, di tengah ketidakpastian geopolitik global. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa kebijakan dan tata kelola energi nasional mulai membuahkan hasil nyata.
Meski begitu, Bahlil mengakui bahwa kondisi energi Indonesia masih jauh dari ideal. Indonesia yang dahulu sempat menjadi eksportir minyak dan anggota OPEC kini justru bergantung pada impor. Produksi minyak domestik hanya sekitar 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Dalam situasi tersebut, pemerintah dituntut mencari solusi agar Indonesia bisa mencapai kemandirian energi. Menurut Bahlil, tahun 2025 menjadi titik penting karena untuk pertama kalinya dalam satu dekade, produksi minyak nasional berhasil melampaui target APBN. Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari keputusan-keputusan strategis yang sebelumnya kerap dihindari.
Salah satu langkahnya adalah mengoptimalkan ribuan sumur minyak tua yang sebagian sudah tidak produktif, termasuk peninggalan era kolonial. Pemerintah mendorong kontraktor kerja sama migas (KKKS) untuk memanfaatkan teknologi baru agar sumur-sumur tersebut kembali menghasilkan. Selain itu, diberikan pula insentif serta pelibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan sumur secara legal.
Di sisi lain, terdapat ratusan wilayah kerja migas yang sudah memiliki potensi dan rencana pengembangan, namun lama tidak dieksekusi. Pemerintah kemudian mengambil pendekatan lebih tegas untuk mempercepat realisasi proyek-proyek tersebut.
Contohnya adalah Blok Masela yang sempat tertunda hampir 30 tahun. Pemerintah memberi batas waktu kepada operator untuk segera bergerak, hingga akhirnya proyek tersebut masuk tahap lelang Engineering, Procurement, and Construction (EPC). Proyek ini bernilai sekitar 21 miliar dolar AS di Maluku. Sementara itu, temuan di Blok Ganal, Kalimantan Timur, diperkirakan mulai berproduksi besar pada 2029.
Di sektor bahan bakar minyak, pemerintah menargetkan penghentian impor solar pada 2026. Ini dianggap sebagai pencapaian bersejarah. Keberhasilan ini didorong oleh program mandatori biodiesel yang sudah berjalan hampir satu dekade, yaitu pencampuran solar dengan minyak sawit yang kini mencapai 40 persen dan direncanakan naik menjadi 50 persen.
Dengan kebijakan tersebut, sebagian kebutuhan solar dalam negeri kini dapat dipenuhi dari produksi lokal berbasis sawit, sehingga mengurangi ketergantungan impor.
Pemerintah juga mulai menyiapkan kebijakan serupa untuk bensin melalui campuran etanol. Indonesia bahkan mempelajari pengalaman Brasil yang lebih dulu menerapkannya. Bahan baku seperti singkong, jagung, dan tebu dinilai tersedia cukup besar di dalam negeri. Targetnya, campuran etanol 20 persen pada bensin bisa diterapkan pada 2028 dan berpotensi mengurangi impor bensin hingga sekitar 8 juta kiloliter.
Untuk kebutuhan LPG rumah tangga, tantangan masih cukup besar karena Indonesia masih mengimpor sekitar 7,47 juta metrik ton per tahun, sementara produksi domestik hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan. Subsidi LPG juga membebani anggaran negara hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun.
Sebagai alternatif, pemerintah mulai mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG), yang diklaim lebih murah sekitar 30–40 persen dibanding LPG. Teknologi ini telah diuji di sejumlah restoran dan dapur program makanan bergizi, dan direncanakan untuk penggunaan rumah tangga.
Di sisi impor minyak mentah, Indonesia mulai mendiversifikasi sumber pasokan yang sebelumnya banyak bergantung pada Timur Tengah. Kini impor juga dilakukan dari Afrika, Amerika, hingga Rusia untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan.
Bahlil menegaskan bahwa kunjungan kerja Presiden ke berbagai negara penghasil minyak bukan sekadar perjalanan diplomatik, melainkan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan energi bagi ratusan juta penduduk Indonesia.
Pemerintah juga memastikan bahwa harga BBM dan LPG subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun, meskipun harga minyak dunia berfluktuasi.
Menurut Bahlil, ketahanan energi tidak bisa dicapai secara instan, melainkan melalui rangkaian kebijakan bertahap. Mulai dari optimalisasi sumur tua, percepatan proyek migas, hingga pengelolaan impor yang lebih terarah, seluruhnya menjadi bagian dari strategi memperkuat fondasi energi nasional.












