SUMA.ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada awal Mei 2026 dinilai sebagai langkah yang wajar oleh anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno. Ia menyebut penyesuaian ini tidak bisa dihindari karena mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia yang terus berlangsung.
Menurut Eddy, sistem penetapan harga BBM nonsubsidi memang dirancang agar selaras dengan mekanisme pasar. Jika harga tidak disesuaikan dengan kondisi global, hal tersebut berpotensi menimbulkan beban finansial yang besar, baik bagi pemerintah melalui anggaran negara maupun bagi perusahaan energi seperti Pertamina serta pelaku usaha swasta lainnya.
Ia menegaskan bahwa mempertahankan harga lama di tengah kenaikan harga minyak global hanya akan memperbesar tekanan ekonomi. Karena itu, penyesuaian harga dipandang sebagai langkah rasional untuk menjaga keseimbangan keuangan negara dan keberlangsungan usaha sektor energi.
Penyesuaian Harga oleh Berbagai Perusahaan
Kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai terlihat sejak pertengahan April 2026 ketika Pertamina melakukan penyesuaian pada sejumlah produknya. Memasuki awal Mei, perusahaan swasta seperti BP Indonesia dan VIVO Energy Indonesia juga melakukan langkah serupa, terutama pada produk diesel yang mengalami kenaikan cukup tajam.
Berikut rincian harga BBM terbaru beserta perubahannya
- Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter (tetap / subsidi)
- Bio Solar (CN 48): Rp6.800 per liter (tetap / subsidi)
- Pertamax (RON 92): Rp12.300 per liter (tetap)
- Pertamax Green (RON 95): Rp12.900 per liter (tetap)
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp19.900 per liter (naik Rp500)
- Dexlite (CN 51): Rp26.000 per liter (naik Rp2.400)
- Pertamina Dex (CN 53): Rp27.900 per liter (naik Rp4.000)
- BP Ultimate Diesel / VIVO Primus Plus: Rp30.890 per liter (naik Rp5.430)
Kenaikan paling mencolok terjadi pada jenis BBM diesel nonsubsidi, terutama yang dipasarkan oleh perusahaan swasta. Sementara itu, BBM bersubsidi serta beberapa jenis bensin nonsubsidi masih belum mengalami perubahan harga.
Dorongan Perkuat Ketahanan Energi
Selain membahas kenaikan harga, Eddy yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil impor membuat perekonomian sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia dan dinamika geopolitik global.
Menurutnya, selama ketergantungan tersebut masih tinggi, setiap kenaikan harga minyak dunia akan terus memberi tekanan terhadap ekonomi domestik.
Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, angin, dan bioenergi. Transisi energi, menurutnya, bukan hanya penting untuk keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menjaga kemandirian ekonomi nasional.
Eddy pun menegaskan bahwa ketahanan energi memiliki peran yang sama pentingnya dengan ketahanan nasional. Oleh sebab itu, peralihan menuju energi bersih tidak lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan yang harus segera diwujudkan.










