suma.id – Jakarta, 9 September 2025 – Para astronom berhasil mengungkap asal-usul Fast Radio Burst (FRB) 20221022A, sebuah sinyal misterius yang menempuh perjalanan 200 juta tahun cahaya untuk sampai ke Bumi. Dengan memanfaatkan teknik sintilasi, ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) melacak sinyal ini hingga ke magnetosfer bintang neutron, membuka wawasan baru tentang fenomena kosmik yang selama ini menjadi teka-teki. Artikel ini akan mengulas penemuan ini, teknologi di baliknya, dan implikasinya bagi penelitian astronomi, dengan optimasi SEO untuk memudahkan pencarian.
Apa Itu Fast Radio Burst (FRB)?
Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2007, Fast Radio Burst (FRB) telah memikat perhatian komunitas ilmiah. FRB adalah ledakan gelombang radio berdurasi sangat singkat—hanya beberapa milidetik—namun mampu memancarkan energi setara dengan ratusan juta matahari. Sinyal ini sering dikaitkan dengan objek kosmik ekstrem, seperti bintang neutron atau lubang hitam, tetapi penyebab pastinya masih menjadi misteri.
FRB dapat terdeteksi dari jarak hingga 8 miliar tahun cahaya, menjadikannya alat penting untuk mempelajari struktur alam semesta. Meski ribuan FRB telah terdeteksi, asal-usul dan mekanisme pembentukannya masih sulit dipahami, mendorong para ilmuwan untuk terus mengembangkan teknologi dan metode analisis baru.
Baca Juga: Galaksi Kerdil dengan Rotasi Unik Ditemukan Astronom
Penemuan FRB 20221022A
Menurut laporan dari ScienceDaily, tim peneliti MIT berhasil melacak asal-usul FRB 20221022A, sebuah sinyal yang terdeteksi pada tahun 2022. Sinyal ini berasal dari galaksi yang berjarak sekitar 200 juta tahun cahaya dari Bumi, tergolong dekat dalam skala kosmik. Dengan menggunakan teknik sintilasi, para ilmuwan menganalisis fluktuasi kecerahan sinyal untuk menentukan lokasi sumbernya, yang ternyata berada sangat dekat dengan sebuah bintang neutron.
Penemuan ini menjadi terobosan karena memberikan bukti kuat bahwa FRB dapat berasal dari magnetosfer, yaitu wilayah dengan medan magnet superkuat di sekitar bintang neutron. Magnetosfer ini begitu ekstrem hingga mampu menghancurkan atom dan menghasilkan energi yang dilepaskan sebagai gelombang radio yang terdeteksi di Bumi.
“Kami menemukan bahwa energi yang tersimpan dalam medan magnet bintang neutron, yang berputar dan mengalami rekonfigurasi, dapat dilepaskan sebagai gelombang radio yang terlihat dari jarak jauh,” kata Kiyoshi Masui, profesor fisika MIT.
Teknik Sintilasi: Kunci Penemuan
Untuk menentukan asal-usul FRB 20221022A, tim MIT menggunakan teknik sintilasi, sebuah metode yang mirip dengan cara bintang tampak berkelap-kelip di langit malam. Sintilasi terjadi ketika gelombang radio dari sumber kecil dan terang melewati awan gas atau elektron di galaksi, menyebabkan sinyal tersebar dan menciptakan pola kecerahan yang khas. Dengan menganalisis pola ini, ilmuwan dapat menentukan ukuran dan lokasi sumber sinyal.
Hasil analisis menunjukkan bahwa FRB 20221022A berasal dari wilayah kecil, hanya sekitar 10.000 kilometer—sekitar dua kali jarak antara Jakarta dan Tokyo. Ini mengindikasikan bahwa sinyal tersebut berasal dari area yang sangat dekat dengan bintang neutron, kemungkinan besar di dalam atau tepat di luar magnetosfernya.
“Ukuran sumber yang sangat kecil ini menunjukkan bahwa FRB berasal dari lingkungan magnetik ekstrem, kemungkinan besar di sekitar bintang neutron,” jelas Kenzie Nimmo, penulis utama studi yang dipublikasikan di Nature.
Peran Magnetosfer Bintang Neutron
Bintang neutron adalah sisa inti bintang masif yang runtuh setelah ledakan supernova, memiliki kepadatan ekstrem dan medan magnet yang sangat kuat. Dalam kasus FRB 20221022A, para ilmuwan menyimpulkan bahwa energi dari magnetosfer—wilayah di sekitar bintang neutron yang didominasi medan magnet—menghasilkan ledakan gelombang radio. Medan magnet ini begitu kuat sehingga dapat mengganggu struktur atom, menciptakan kondisi ekstrem yang memicu FRB.
Penemuan ini memperkuat hipotesis bahwa magnetar (bintang neutron dengan medan magnet ultra-kuat) adalah salah satu sumber utama FRB. Energi yang tersimpan dalam medan magnet yang berputar dan berubah konfigurasi dilepaskan dalam bentuk gelombang radio yang mampu menempuh jarak ratusan juta tahun cahaya.
Peran Teknologi CHIME dalam Deteksi FRB
Penemuan ini tidak lepas dari peran Canadian Hydrogen Intensity Mapping Experiment (CHIME), sebuah teleskop radio di British Columbia yang telah mendeteksi ribuan FRB sejak 2020. CHIME, bersama jaringan Outrigger di California, Virginia Barat, dan British Columbia, memungkinkan pelacakan sinyal dengan presisi tinggi. Dalam kasus FRB 20221022A, CHIME berhasil menangkap sinyal dan memberikan data awal untuk analisis sintilasi.
Teknologi ini memungkinkan para astronom untuk memetakan lokasi FRB dengan akurasi hingga 42 tahun cahaya, sebuah pencapaian luar biasa dalam astronomi modern. Dengan kemajuan ini, ilmuwan semakin dekat untuk memahami keragaman dan mekanisme di balik FRB.
Implikasi Penemuan untuk Astronomi
Penemuan sumber FRB 20221022A memiliki dampak besar bagi penelitian kosmologi:
- Pemahaman Magnetar: Bukti bahwa FRB berasal dari magnetosfer bintang neutron memperkuat teori bahwa magnetar adalah salah satu sumber utama fenomena ini.
- Pemetaan Alam Semesta: FRB dapat digunakan untuk mempelajari distribusi materi antargalaksi, membantu ilmuwan memetakan struktur kosmos.
- Teknologi Observasi: Teknik sintilasi membuka jalan bagi analisis sinyal kosmik lainnya, meningkatkan kemampuan untuk melacak fenomena langka.
Meski begitu, banyak pertanyaan masih belum terjawab, seperti apakah semua FRB berasal dari magnetar atau ada mekanisme lain yang terlibat. Penelitian lanjutan dengan teleskop seperti SKA (Square Kilometre Array) di Australia dan Afrika Selatan diharapkan dapat mendeteksi lebih banyak FRB dan memberikan jawaban lebih jelas.
Kesimpulan
Penemuan asal-usul FRB 20221022A oleh tim MIT adalah langkah besar dalam memecahkan misteri Fast Radio Burst. Dengan teknik sintilasi, ilmuwan berhasil melacak sinyal ini ke magnetosfer bintang neutron di galaksi berjarak 200 juta tahun cahaya. Didukung oleh teknologi CHIME, temuan ini tidak hanya memperjelas sumber FRB, tetapi juga membuka wawasan baru tentang alam semesta. Bagi penggemar astronomi, penemuan ini menegaskan bahwa kita semakin dekat untuk memahami fenomena kosmik yang selama ini penuh teka-teki.










