Suma.id: Indonesia memiliki sesar aktif yang berpotensi gempa besar. Hal ini merupakan sesuatu yang harus selalu diwaspadai dan masyarakat akan selalu hidup dengan ancaman itu.
Namun yang harus dilakukan bersama adalah bagaimana hidup dengan aman dengan ancaman gempa bumi tersebut. “Menurut saya semua ini adalah tanggung jawab kita semua, jadi kita bergerak sedikit demi sedikit untuk memperbaiki dan memitigasi permasalahan kita ini,” terang Mudrik, Jumat, 25 November 2022.
Mudrik mengatakan, gempa bumi di Cianjur pada awal terjadi diperkirakan berasal dari sisi sebelah Selatan yaitu dari sesar Cimandiri. “Tetapi hasil posisi gempa dari kawan-kawan seismologi, dari BMKG, menunjukkan, dia berada di arah utaranya, mengindikasikan bahwa bukan bagian dari sesar Cimandiri. Jadi sesuatu sesar yang belum terpetakan,” jelas Mudrik dilansir dari laman BRIN, Jumat, 25 November 2022.
BRIN telah melakukan penelitian untuk mencari tahu jejak-jejak yang sebenarnya dari patahan-patahan yang menghasilkan gempa bumi.
“Kami melakukan penelitian dengan melihat kejadian gempa bumi lampau, gempa bumi yang pernah terjadi di wilayah Jawa Barat, bahwa gempa pernah terjadi tahun 1800 an sekian. Jadi kalau kita hitung kemungkinan kalau dia bersumber dari lokasi yang sama dia memiliki periode ulang 180 tahun. Tapi kita harus lebih rinci menunjukkan di mana jelas sesar aktif itu berada,” terang Mudrik.
Sementara di Cianjur, Jawa Barat, mengalami gempa susulan hingga 248 kali sejak Senin, 21 November 2022. Kepala Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Suko Prayitno Adi, mengatakan gempa susulan paling besar berkekuatan magnituto 4,2.
Sedangkan kekuatan paling kecil, yakni magnitudo 1,2. Adi mengatakan frekuensi gempa susulan menurun hari demi hari.
“Kekuatannya juga melemah. Alhamdulillah tidak membahayakan,” ujar Adi di Cianjur, Jumat, 25 November 2022.