SUMA.ID – Film Dokumenter DJUM Raih Penghargaan di Bulgaria dan menjadi bukti bahwa karya sineas muda Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Prestasi membanggakan ini diraih dalam ajang Golden FEMI Film Festival 2026 yang berlangsung di Sofia, Bulgaria, salah satu festival film bergengsi di Eropa yang diikuti ribuan peserta dari berbagai negara.
Film dokumenter pendek berjudul DJUM merupakan karya Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto, mahasiswa Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya tersebut berhasil meraih penghargaan kategori Best Production with Strong Social Message and Humanitarian Contribution Award, sebuah penghargaan yang diberikan kepada film dengan pesan sosial dan nilai kemanusiaan yang kuat.
Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia perfilman Indonesia. Tidak hanya karena berhasil meraih penghargaan internasional, tetapi juga karena film tersebut lahir dari lingkungan akademik dan berawal dari sebuah tugas perkuliahan yang kemudian berkembang menjadi karya berkelas dunia.
Film Dokumenter DJUM Raih Penghargaan di Bulgaria Setelah Bersaing dengan Ribuan Film
Prestasi yang diraih DJUM terasa semakin istimewa karena film ini harus bersaing dengan lebih dari 9.600 karya film dari sekitar 130 negara. Kompetisi yang sangat ketat tersebut menunjukkan tingginya kualitas karya-karya yang berpartisipasi dalam festival tersebut.
Malam penganugerahan yang digelar pada 6 Juni 2026 di Royal Ballroom, Sofia Balkan Palace Hotel menjadi momen bersejarah bagi tim produksi DJUM. Penghargaan tersebut diterima secara simbolis oleh perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia.
Kehadiran KBRI dalam acara tersebut tidak hanya sebagai bentuk dukungan terhadap sineas muda Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya yang memperkenalkan karya dan nilai-nilai Indonesia kepada masyarakat internasional.
Golden FEMI Film Festival sendiri dikenal sebagai salah satu festival film bergengsi di Eropa. Ajang ini berada di bawah patronase Wakil Presiden Bulgaria, Iliana Iotova, dan sebelumnya juga pernah mendapatkan dukungan dari Parlemen Eropa. Karena itu, penghargaan yang diraih DJUM memiliki nilai prestisius yang tinggi di dunia perfilman internasional.
Mengangkat Kisah Sederhana yang Sarat Nilai Kemanusiaan
Salah satu kekuatan utama DJUM terletak pada cerita yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Film berdurasi hampir 19 menit ini mengangkat kisah seorang pria bernama Jumadi, seorang penggerobak sampah berusia 69 tahun yang telah bekerja selama lebih dari empat dekade.
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Jumadi tetap berjuang tanpa kenal lelah demi masa depan keluarganya. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga menempuh pendidikan tinggi.
Namun perjalanan hidup Jumadi tidak selalu berjalan mulus. Menjelang pernikahan anak bungsunya, sang istri mengalami stroke yang menjadi ujian berat bagi keluarga tersebut. Dalam situasi penuh tantangan itu, sosok Jumadi digambarkan tetap tegar dan penuh kasih sayang.
Melalui cerita tersebut, DJUM menghadirkan potret kehidupan yang sederhana namun sarat makna. Film ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta, tanggung jawab, dan pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Berawal dari Tugas Kuliah hingga Mendunia
Salah satu fakta yang paling menginspirasi dari perjalanan DJUM adalah asal-usul pembuatannya. Film ini awalnya merupakan proyek Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah dokumenter di ISI Yogyakarta.
Dari sebuah tugas akademik, DJUM kemudian dikembangkan secara lebih serius bersama komunitas kreatif Selat Sunda Creative. Dengan proses produksi yang matang dan pendekatan dokumenter yang kuat, film tersebut akhirnya mampu menembus berbagai festival internasional.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa lingkungan kampus dapat menjadi ruang lahirnya karya-karya berkualitas yang memiliki daya saing global. Selain itu, prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang di industri kreatif dunia.
Rekam Jejak Prestasi Internasional DJUM
Sebelum meraih penghargaan di Bulgaria, DJUM sebenarnya telah mendapatkan perhatian dari berbagai festival film internasional.
Film ini tercatat menjadi pemenang dalam Salisbury University Film Festival di Amerika Serikat. Selain itu, DJUM juga masuk sebagai finalis Giuseppe Šebesta Prize di Italia dan memperoleh penghargaan Honorable Mention dalam ajang Films That Move di Jamaika.
Tak hanya itu, film ini juga berhasil mencapai babak semifinal Tianjin International Academic Film Festival di China dan masuk dalam kompetisi Festival Film Dokumenter di Indonesia.
Rangkaian pencapaian tersebut menunjukkan bahwa cerita yang diangkat DJUM memiliki daya tarik universal yang dapat dipahami oleh penonton dari berbagai budaya dan negara.
Bukti Kekuatan Narasi Lokal di Panggung Global
Kesuksesan DJUM memperlihatkan bahwa cerita lokal tidak harus berskala besar untuk mendapatkan pengakuan internasional. Kisah sederhana tentang perjuangan seorang ayah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya ternyata mampu menyentuh hati banyak orang di berbagai belahan dunia.
Hal ini menjadi pelajaran penting bagi para sineas muda bahwa kekuatan utama sebuah film terletak pada kejujuran cerita dan kedalaman pesan yang disampaikan.
Ketika sebuah karya mampu menghadirkan emosi, nilai kemanusiaan, dan refleksi kehidupan secara autentik, maka batas bahasa maupun budaya bukan lagi menjadi penghalang.
Kesimpulan
Keberhasilan Film Dokumenter DJUM meraih penghargaan di Bulgaria menjadi pencapaian yang membanggakan bagi dunia perfilman Indonesia. Karya mahasiswa ISI Yogyakarta ini membuktikan bahwa talenta muda Indonesia mampu menghasilkan film berkualitas yang diakui dunia.
Lebih dari sekadar penghargaan, kesuksesan DJUM menjadi simbol bahwa narasi lokal yang jujur dan menyentuh dapat diterima secara universal. Prestasi ini juga menjadi motivasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa cerita-cerita inspiratif Indonesia ke panggung internasional.











