SUMA.ID – Inflamasi Kardiovaskular kini menjadi perhatian serius para peneliti setelah hasil studi terbaru menunjukkan bahwa peradangan pada pembuluh darah dapat menjadi ancaman tersembunyi di balik meningkatnya kasus penyakit jantung dan stroke di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Selama ini, pengendalian penyakit kardiovaskular lebih banyak berfokus pada faktor risiko umum seperti kadar kolesterol tinggi, tekanan darah, gula darah, pola makan, serta gaya hidup tidak sehat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan masih ada faktor lain yang selama ini kurang diperhatikan, yaitu inflamasi atau peradangan yang terjadi pada sistem pembuluh darah.
kondisi ini dinilai berbahaya karena sering berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas, tetapi dalam jangka panjang mampu meningkatkan risiko komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, bahkan gagal jantung.
Hasil Studi Poseidon Ungkap Bahaya Inflamasi Kardiovaskular
Temuan mengenai Inflamasi Kardiovaskular ini berasal dari studi global bernama Poseidon Study yang dipresentasikan oleh Novo Nordisk pada ajang European Atherosclerosis Society Congress di Athena, Yunani.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan meneliti sekitar 18.904 pasien dari 18 negara yang tersebar di kawasan Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, hingga Asia Pasifik selama periode 2023 hingga 2025.
Hasil penelitian menunjukkan sekitar dua dari lima pasien yang mengalami penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis masih mengalami inflamasi pada pembuluh darah meskipun telah menjalani pengobatan sesuai standar medis saat ini.
Analisis lain dalam penelitian yang sama juga menemukan angka serupa pada pasien dengan kondisi gagal jantung.
Temuan ini menjadi sinyal bahwa terapi konvensional belum sepenuhnya mampu mengatasi seluruh faktor risiko yang menyebabkan komplikasi penyakit jantung.
Apa Itu Inflamasi Kardiovaskular dan Mengapa Berbahaya?
Inflamasi Kardiovaskular merupakan kondisi peradangan yang terjadi pada dinding pembuluh darah. Berbeda dengan inflamasi akibat infeksi biasa yang sering disertai rasa sakit atau demam, inflamasi pada sistem kardiovaskular umumnya berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang mudah dikenali.
Ketika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, pembuluh darah dapat mengalami kerusakan secara perlahan. Akibatnya aliran darah menjadi terganggu dan risiko terbentuknya plak aterosklerosis meningkat.
Plak tersebut kemudian dapat memicu penyumbatan pembuluh darah yang menjadi penyebab utama serangan jantung dan stroke.
Karena prosesnya sering berlangsung tanpa gejala, banyak pasien tidak menyadari adanya peradangan aktif meskipun sudah menjalani pengobatan untuk menurunkan kolesterol atau tekanan darah.
Peneliti Sebut Inflamasi Kini Jadi Fokus Baru Dunia Medis
Senior Vice President sekaligus Chief Medical Officer Novo Nordisk, Filip Knop, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini memperlihatkan inflamasi merupakan faktor risiko yang masih bertahan meskipun pasien telah menjalani terapi berdasarkan pedoman medis yang berlaku.
Menurutnya, memahami peran inflamasi menjadi bagian penting dalam pengembangan terapi inovatif di masa depan.
Selain itu, Carolyn S P Lam, pakar kardiologi dari National Heart Centre Singapore, menilai hasil penelitian ini mulai mengubah cara dunia medis memandang pengelolaan penyakit kardiovaskular.
Ia menyebut inflamasi bukan lagi faktor tambahan, melainkan salah satu komponen utama yang memengaruhi risiko komplikasi pada jutaan pasien di seluruh dunia.
Pemeriksaan Kini Jadi Penanda Penting Risiko Penyakit Jantung
Dalam penelitianhsCRP ini, inflamasi diukur menggunakan pemeriksaan High-sensitivity C-reactive Protein (hsCRP) atau tes darah yang digunakan untuk mendeteksi tingkat peradangan di dalam tubuh, khususnya pada pembuluh darah.
Seiring berkembangnya penelitian, berbagai organisasi kesehatan internasional kini mulai memasukkan pemeriksaan hsCRP sebagai salah satu indikator penting dalam evaluasi risiko penyakit kardiovaskular.
Beberapa organisasi yang telah memasukkan biomarker ini ke pedoman klinis antara lain:
- European Society of Cardiology
- American Heart Association
- College of Cardiology
Indonesia sendiri, penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi dengan kontribusi sekitar 30 persen dari total angka kematian nasional menurut data Kementerian Kesehatan.
Temuan terbaru mengenai inflamasi ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi antiinflamasi yang secara khusus menargetkan penyebab tersembunyi di balik berbagai penyakit jantung dan stroke.
Dengan semakin berkembangnya penelitian, penanganan penyakit jantung di masa depan kemungkinan tidak lagi hanya berfokus pada kolesterol dan tekanan darah, tetapi juga pada pengendalian inflamasi dalam tubuh.










