SUMA.ID – Planet Sub-Neptunus di Bintang Kecil menjadi salah satu misteri terbaru yang menarik perhatian astronom dunia. Penelitian terbaru mengungkap bahwa planet jenis sub-Neptunus ternyata sangat jarang ditemukan di sekitar bintang merah redup, meski jenis bintang tersebut merupakan yang paling umum di Galaksi Bima Sakti.
Temuan ini membuka pertanyaan besar tentang bagaimana planet terbentuk di luar tata surya kita. Para ilmuwan menduga ada mekanisme unik yang membuat sistem planet di sekitar bintang kecil berkembang berbeda dibanding sistem planet di sekitar bintang seperti Matahari.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal astronomi internasional setelah para ilmuwan menganalisis data selama enam tahun dari misi Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA. Misi ini bertujuan mencari planet di luar tata surya dengan metode transit, yaitu mendeteksi perubahan cahaya bintang ketika sebuah planet melintas di depannya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya pola yang tidak biasa, terutama terkait kelangkaan planet sub-Neptunus di sekitar bintang kecil atau yang dikenal sebagai red dwarf.
Planet Sub-Neptunus di Bintang Kecil Sangat Jarang Ditemukan
Dalam penelitian tersebut, para astronom mengamati lebih dari 8.000 bintang merah redup atau mid-to-late M dwarfs. Dari ribuan sistem bintang yang diamati, hanya lima planet sub-Neptunus yang berhasil terverifikasi.
Jumlah tersebut dianggap sangat sedikit jika dibandingkan dengan populasi bintang kecil yang mendominasi galaksi.
Planet sub-Neptunus sendiri merupakan jenis planet yang ukurannya berada di antara Bumi dan Neptunus. Planet ini biasanya memiliki atmosfer gas yang cukup tebal dan sering ditemukan di sekitar bintang mirip Matahari.
Namun, di sekitar bintang kecil, keberadaan planet jenis ini hampir menghilang sepenuhnya.
Eric Gillis, mahasiswa doktoral dari McMaster University, menyebut fenomena ini sebagai petunjuk penting bahwa proses pembentukan planet di sekitar bintang kecil memang berbeda.
Menurutnya, lingkungan ekstrem di sekitar bintang merah kemungkinan memengaruhi perkembangan atmosfer planet sehingga sub-Neptunus sulit bertahan.
Super-Earth Justru Mendominasi di Sekitar Bintang Merah
Meski planet sub-Neptunus sangat langka, penelitian justru menemukan banyak planet berbatu berukuran besar atau super-Earth di sekitar bintang kecil.
Super-Earth merupakan planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dibanding Bumi. Planet jenis ini diketahui jauh lebih umum ditemukan pada sistem bintang merah redup.
Biasanya, pada sistem bintang seperti Matahari terdapat fenomena yang disebut radius valley, yaitu celah ukuran yang memisahkan super-Earth dan sub-Neptunus.
Namun, pada bintang kecil, pola tersebut hampir tidak terlihat. Planet-planet di sana cenderung memiliki ukuran yang mirip Bumi dan didominasi material berbatu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pembentukan planet di sekitar bintang kecil kemungkinan memiliki proses evolusi yang berbeda dibanding sistem planet lain.
Teori Pembentukan Planet di Sekitar Bintang Kecil
Untuk menjelaskan misteri tersebut, para ilmuwan mengembangkan beberapa teori utama.
Teori pertama adalah pebble accretion atau akumulasi debu dan es. Dalam proses ini, planet terbentuk dari penggabungan partikel kecil kaya air dan es yang terus menumpuk selama jutaan tahun.
Karena kandungan airnya tinggi, planet dapat tumbuh besar tanpa membutuhkan lapisan gas tebal seperti sub-Neptunus.
Teori kedua adalah photoevaporation atau pengikisan atmosfer akibat radiasi bintang. Bintang merah dikenal memiliki aktivitas radiasi yang cukup tinggi dan tidak stabil.
Radiasi tersebut diduga mampu memanaskan atmosfer planet hingga gasnya terlepas ke luar angkasa. Akibatnya, planet yang awalnya memiliki atmosfer tebal berubah menjadi inti berbatu yang menyerupai super-Earth.
Jika teori ini benar, maka banyak planet sub-Neptunus sebenarnya pernah terbentuk di sekitar bintang kecil, tetapi kehilangan atmosfernya seiring waktu.
Dampak Penelitian bagi Pencarian Kehidupan di Luar Bumi
Penemuan ini memiliki dampak besar terhadap penelitian astronomi modern, terutama dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
Selama ini, ilmuwan fokus mencari planet layak huni di sekitar bintang kecil karena jumlahnya sangat banyak di galaksi. Selain itu, bintang merah memiliki umur yang lebih panjang dibanding Matahari sehingga dianggap ideal untuk mendukung evolusi kehidupan.
Kelimpahan planet berbatu di sekitar bintang kecil memberikan harapan baru bagi pencarian planet yang memiliki kondisi mirip Bumi.
Planet berbatu dianggap lebih berpotensi memiliki permukaan padat dan kemungkinan keberadaan air cair, salah satu syarat utama munculnya kehidupan.
Meski begitu, para peneliti masih membutuhkan data tambahan terkait massa, komposisi atmosfer, hingga suhu planet untuk memastikan potensi layak huni tersebut.
Selain itu, belum adanya planet raksasa seperti Jupiter di sekitar bintang kecil juga menjadi hal menarik bagi ilmuwan karena dapat memengaruhi stabilitas sistem planet.
NASA dan TESS Terus Meneliti Misteri Galaksi
Misi TESS milik NASA masih terus melakukan pengamatan terhadap ribuan bintang di berbagai wilayah galaksi.
Teknologi teleskop modern memungkinkan astronom menemukan lebih banyak exoplanet atau planet di luar tata surya dengan tingkat akurasi yang semakin tinggi.
Penelitian tentang planet sub-Neptunus di bintang kecil diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Ilmuwan berharap observasi lanjutan dapat membantu menjelaskan bagaimana planet terbentuk dan berevolusi di lingkungan ekstrem.
Selain itu, studi ini juga membantu manusia memahami posisi tata surya dalam konteks galaksi yang jauh lebih luas.
Kesimpulan
Misteri planet sub-Neptunus di bintang kecil menjadi salah satu penemuan paling menarik dalam studi astronomi modern. Kelangkaan planet jenis ini menunjukkan bahwa pembentukan planet di sekitar bintang merah redup memiliki karakteristik unik yang berbeda dari sistem bintang lain.
Di sisi lain, dominasi super-Earth membuka peluang baru dalam pencarian planet layak huni di luar Bumi.
Dengan dukungan teknologi NASA dan misi TESS, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak rahasia tentang asal-usul planet dan kemungkinan kehidupan di galaksi Bima Sakti.











