Suma.id: Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu yang berada di Provinsi Kalimantan Timur, terus berupaya meningkatkan akses komunikasi dan internet terhadap warganya,termasuk pelayanan publik.
Lokasi Mahakam Ulu secara geografis cukup menantang dan ekstrem karena moda transportasi yang bisa digunakan untuk mengakses wilayah pelosok, hanya menggunakan transportasi sungai.
Namun demikian pembangunan infrastruktur telekomunukasi disana cukup besar dan terus dilakukan.
Kabid Infrastruktur Teknologi Informasi dan Telematika Diskominfo Pemkab Mahakam Ulu, Evodius Awang mengatakan awalnya akses telekomunikasi di Mahakam Hulu masuk pada tahun 2010. Saat itu, hanya ada lima menara telekomunikasi dengan sinyal 2G.
“Kemudian, di tahun 2019, masyarakat sudah bisa memanfaatkan sinyal hingga 4G,” ujar dia.
Pemkab juga terus membangun menara telekomunikasi, hingga di kawasan perbatasan di Kecamatan Long Apari. Koneksi internet di Mahakam Ulu bergantung pada fiber optik (FO) dari project Palapa Ring Wilayah Tengah.
“Apabila FO Cut terjadi, maka sekabupaten Mahakam Ulu Down (komunikasi), dan hampir terjadi setiap hari, karena aktivitas pembukaan jalan, menganggu fiber optik hampir setiap hari putus,” kata dia.
Upaya selanjutnya untuk memperluas komunikasi dan internet yakni melalui program Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi (KPU/USO) dari BAKTI Kominfo.
“BAKTI Kominfo sudah membangun 13 BTS di sini, akses internet yang sudah disupport sekitar 110,” ujarnya.
Dari upaya tersebut, fasilitas kesehatan, sekolah, dan kantorkantor desa serta fasilitas umum sudah dipasang akses internet.
“Meskipun dengan kapasitas yang minim, kita sudah beberapa kalimengusulkan,” katanya.
Kepala Puskesmas Laham,Kabupaten Mahakam Ulu, Kaltim Katarina Kerawing mengaku di daerahnya ketika ada warga sakit, mereka lebih mengedepankan upaya spritual dan kepercayaan terlebih dahulu dengan datang
ke dukun, daripada lansung menyambangi pihak medis, semisal Puskesmas.
Contohnya jika ada warga menderita malaria, kejang-kejang dan meracau, masyarakat menganggap hal tersebut karena mistis atau hantu.
“Kalau enggak ada reaksi (dukun) baru mereka ke puskesmas atau mencari petugas kesehatan,” ujarnya.
Namun setelah diberi pelayanan dan perawatan dengan obat-obatan, hingga dikonsultasikan ke dokter, baru masyarakat sadar pentingnya penanganan kesehatan secara medis. Karenanya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, sangat dibutuhkan.
Katarina menambahkan, Puskesmas Laham sebenarnya hanya melayani warga yang berasal dari lima Kampung, dan yang terjauh
dekat dengan perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah. Karenanya,tenaga kesehatan memerlukan alat dan cakupan sinyal telekomunikasi yang maksimal.
Internet yang muncul di tahun 2019 kadang bisa diakses kadang sinyal pun hilang. “Sinyal internet sangat dibutuhkan bagi tenaga kesehatan, termasuk dalam penggunaan aplikasi Silacak dari Kementerian Kesehatan,” katanya.
Pentingnya akses komunikasi sangat dirasakan pihak Puskesmas Laham. Terutama untuk mengobati dan memeriksa masyarakat di Puskesmas Laham yang jarak tempuhnya butuh waktu 10-12 jam, dan hanya bisa menggunakan transportasi sungai.
Katarina menceritakan, awalnya Puskesmas Laham memiliki dua dokter untuk menangani pasien yang butuh tindakan, namun keduanya telah mengundurkan diri.
“Sekarang tidak ada dokter, jadi penanganannya harus konsultasi dulu, dan konsultasi via HP (telepon),” ujarnya.
Selain kendala jarak yang jauh,beberapa kendala juga dialami oleh Nakes setempat. Salah satunya, nakes muda terkadang dipandang sebelah mata oleh orang tua atau
tetua sekitar.
“Misalnya nakes kasih edukasikesehatan kadang juga dibantah oleh orang tua, karena merasa lebih tahu,” katanya. (ADV)