Sunday, August 9, 2026
Sumatra Inspirasi Indonesia
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Sumatra Inspirasi Indonesia
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Sumatra Inspirasi Indonesia
Beranda LIFESTYLE TEKNOLOGI

China Ban OnlyFans 2025: Alasan, Dampak, dan Ketatnya Sensor Internet Tiongkok

cecil Editor cecil
24/07/2025 15:21
in TEKNOLOGI
A A
China Ban OnlyFans 2025: Alasan, Dampak, dan Ketatnya Sensor Internet Tiongkok
Share on FacebookShare on Twitter

suma.id – Pada Juli 2025, Tiongkok resmi memblokir OnlyFans, platform berlangganan yang dikenal dengan konten eksklusif, termasuk materi dewasa. Dengan lebih dari 300 juta kunjungan bulanan secara global, OnlyFans telah menjadi fenomena digital yang memicu kontroversi di banyak negara. Namun, di Tiongkok, pemerintah menerapkan larangan total sebagai bagian dari kebijakan anti-pornografi dan pengendalian internet yang ketat. Artikel ini mengulas alasan di balik pemblokiran OnlyFans, dampaknya bagi pengguna dan kreator, serta konteks sensor internet di Tiongkok yang dikenal sebagai Great Firewall.

Tiongkok Resmi Blokir OnlyFans pada Juli 2025

Pada 15 Juli 2025, Tiongkok memperkuat pemblokiran terhadap OnlyFans melalui langkah-langkah teknis berikut:

  • Penyaringan DNS dan IP melalui Great Firewall untuk memblokir akses situs.
  • Pembatasan transaksi pembayaran melalui platform seperti Alipay dan WeChat Pay.
  • Penindakan terhadap VPN ilegal yang digunakan untuk mengakses situs yang diblokir.

Menurut Central News South Africa (23 Juli 2025), pemerintah Tiongkok menyebut OnlyFans sebagai “penyakit Barat yang korup” yang bertentangan dengan nilai-nilai sosialisme dan moral tradisional Tiongkok. Pemblokiran ini menegaskan komitmen Tiongkok untuk melindungi warganya dari konten yang dianggap “polusi spiritual”.

BacaJuga

Angin Matahari di Bulan Melambat, Temuan Ilmuwan Tiongkok Buka Wawasan Baru untuk Eksplorasi Antariksa

NASA Ungkap Rahasia Gunung Berapi Io, Bagian Dalam Bulan Jupiter Berhasil Dipetakan

Ekor Komet Lemmon Robek Akibat Ledakan Matahari, NASA Ungkap Fenomena Langka di Ruang Angkasa

HP Samsung Murah Terbaik 2026: Galaxy A07 RAM 8GB dengan Helio G99 Harga Mulai Rp1 Jutaan

Alasan Tiongkok Memblokir OnlyFans

1. Menolak Pengaruh Budaya Barat

Tiongkok memandang OnlyFans sebagai simbol “dekadensi Barat” yang mempromosikan individualisme dan kebebasan seksual, bertentangan dengan nilai-nilai Konfusianisme dan ideologi sosialisme. Pemerintah menilai platform ini merusak harmoni sosial dan budaya tradisional Tiongkok.

2. Kebijakan Anti-Pornografi yang Ketat

Tiongkok memiliki hukum ketat yang melarang produksi, distribusi, dan konsumsi konten pornografi. Menurut Wikipedia (Pornography in China), pelaku distribusi konten dewasa dapat menghadapi hukuman hingga penjara seumur hidup. Istilah “polusi spiritual” digunakan untuk menggambarkan konten yang dianggap merusak kesehatan mental masyarakat, terutama anak muda. OnlyFans, dengan reputasinya sebagai platform konten dewasa, dianggap sebagai ancaman langsung.

3. Pengendalian Internet melalui Great Firewall

Tiongkok mengoperasikan Great Firewall, sistem sensor internet paling canggih di dunia, yang memblokir lebih dari 200.000 domain, termasuk Google, Facebook, dan Instagram. OnlyFans masuk dalam daftar hitam karena kontennya dianggap tidak sesuai dengan regulasi siber nasional. Cyberspace Administration of China (CAC) juga mewajibkan platform domestik seperti WeChat dan Sina Weibo untuk menerapkan sensor mandiri menggunakan AI untuk menyaring konten sensitif.

Dampak Larangan OnlyFans di Tiongkok

1. Kreator Lokal Kehilangan Peluang Monetisasi

Meskipun OnlyFans sebagian besar digunakan oleh kreator internasional, beberapa kreator Tiongkok mengandalkan VPN untuk menghasilkan pendapatan dari pelanggan global. Dengan pemblokiran ini, mereka kehilangan akses ke platform dan beralih ke alternatif lokal seperti Xigua Video atau Bilibili, yang memiliki batasan monetisasi dan sensor ketat. Hal ini membatasi kreativitas dan potensi pendapatan mereka.

2. Frustrasi Pengguna Muda Urban

Banyak pengguna muda di kota besar Tiongkok menggunakan OnlyFans untuk eksplorasi identitas dan hiburan alternatif. Larangan ini memaksa mereka mencari platform bawah tanah atau forum di dark web, yang berisiko tinggi karena pengawasan ketat pemerintah. Menurut The Daily Guardian (21 Juli 2025), larangan ini memicu kekecewaan di kalangan pengguna yang melihatnya sebagai pembatasan kebebasan digital.

3. Lonjakan Pasar VPN Ilegal

Pemblokiran OnlyFans meningkatkan permintaan akan VPN premium, dengan harga langganan melonjak 50–70% sejak Juli 2025. Namun, pemerintah Tiongkok memperketat penindakan terhadap penyedia VPN ilegal, dengan denda hingga 15.000 yuan (Rp 33 juta) atau hukuman penjara bagi pelaku. Hal ini membuat akses ke OnlyFans semakin sulit dan berisiko.

Reaksi Publik terhadap Pemblokiran OnlyFans

Reaksi terhadap larangan ini bervariasi di platform global dan domestik:

  • Platform global (Reddit, X): Pengguna di luar Tiongkok, seperti di r/ChinaPolitics, mengkritik pemblokiran sebagai bentuk kontrol berlebihan. Seorang aktivis di Hong Kong berkomentar, “Ini bukan tentang moral, ini tentang menjaga kendali atas informasi dan budaya.”
  • Platform domestik (Weibo): Sebagian besar netizen Tiongkok mendukung larangan, menyebutnya sebagai langkah untuk “membersihkan ruang digital” dan melindungi nilai-nilai tradisional. Beberapa pengguna bahkan mengejek OnlyFans sebagai “sampah Barat”.

Konteks Sensor Internet di Tiongkok

Tiongkok memiliki sistem sensor internet yang sangat ketat, yang mencakup:

  • Great Firewall: Memblokir ribuan situs asing, termasuk media sosial, berita, dan platform kreator seperti OnlyFans.
  • UU Siber Nasional 2017: Mengatur konten yang dianggap mengganggu “ketertiban sosial”, termasuk pornografi, konten LGBTQ+, dan kritik terhadap pemerintah.
  • Kontrol AI: Algoritma canggih dari perusahaan seperti Alibaba dan Tuputech secara otomatis menyaring kata kunci, gambar, dan video yang dianggap tidak pantas.
  • Blacklist Konten: Meliputi pornografi, kekerasan, diskusi politik sensitif, dan konten yang dianggap memicu “diskriminasi atau perilaku tidak etis”.

Menurut Freedom House (2024), Tiongkok mendapat skor “Not Free” dalam laporan Freedom on the Net, dengan lebih dari 100.000 situs diblokir dan jumlah jurnalis serta aktivis digital yang dipenjara terbanyak di dunia.

Mengapa Dunia Perlu Waspada?

1. Preseden untuk Negara Lain

Larangan OnlyFans di Tiongkok dapat menginspirasi negara-negara dengan kecenderungan konservatif, seperti Rusia, Turki, atau Indonesia, untuk menerapkan pembatasan serupa terhadap platform dewasa. Rusia, misalnya, memblokir OnlyFans pada 2023 dengan alasan “konten tidak bermoral”.

2. Isolasi Digital Warga Tiongkok

Dengan pemblokiran platform global seperti OnlyFans, YouTube, dan TikTok internasional, warga Tiongkok semakin terisolasi dalam ekosistem internet domestik yang dikontrol ketat. Hal ini membatasi akses mereka ke informasi dan budaya global, memperkuat narasi resmi pemerintah.

3. Peralihan ke Platform Web3 dan Kripto

Sebagai respons terhadap sensor, beberapa kreator beralih ke platform Web3 berbasis blockchain yang tahan sensor, seperti Fansly atau platform berbasis kripto. Teknologi ini memungkinkan monetisasi tanpa ketergantungan pada sistem pembayaran konvensional yang dikontrol pemerintah, meskipun tetap berisiko karena pengawasan ketat Tiongkok terhadap transaksi kripto.

Kesimpulan: Pemblokiran OnlyFans dan Visi Tiongkok untuk Internet

Pemblokiran OnlyFans di Tiongkok pada Juli 2025 bukan sekadar larangan terhadap platform dewasa, tetapi bagian dari strategi besar untuk menjaga hegemoni budaya dan moral di ruang digital. Melalui Great Firewall, kebijakan anti-pornografi, dan penindakan VPN, Tiongkok memperkuat kontrol atas informasi dan ekspresi warganya. Langkah ini mencerminkan pandangan pemerintah bahwa kebebasan digital harus dibatasi demi menjaga “stabilitas sosial”.

Bagi dunia, pemblokiran ini menjadi pengingat akan dampak sensor internet terhadap inovasi, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Negara-negara lain perlu mencermati tren ini, terutama di tengah meningkatnya sentimen konservatif global. Untuk pembaruan lebih lanjut tentang kebijakan internet Tiongkok, pantau sumber resmi seperti situs Cyberspace Administration of China atau laporan dari organisasi seperti Freedom House.

Posting Sebelumnya

Roblox Ekspansi ke Pasar Dewasa: Fitur Kencan Virtual untuk Atasi Kesepian di 2025

Posting berikutnya

Sprunki Cendi OC: Jelajahi Dunia Remix Bertema Permen yang Penuh Keceriaan!

cecil

cecil

BeritaTerkait

Angin Matahari di Bulan Melambat, Temuan Ilmuwan Tiongkok Buka Wawasan Baru untuk Eksplorasi Antariksa

Angin Matahari di Bulan Melambat, Temuan Ilmuwan Tiongkok Buka Wawasan Baru untuk Eksplorasi Antariksa

28/07/2026 13:24
Personal Branding Mama Firda, Kunci Sukses Membangun Kepercayaan Sebagai Reviewer Produk

Personal Branding Mama Firda, Kunci Sukses Membangun Kepercayaan Sebagai Reviewer Produk

28/07/2026 12:54
Ryan Gosling Resmi Jadi Ghost Rider di MCU, Film Reboot Dijadwalkan Tayang pada 2028

Ryan Gosling Resmi Jadi Ghost Rider di MCU, Film Reboot Dijadwalkan Tayang pada 2028

28/07/2026 12:47
Black Panther III Resmi Digarap, David Jonsson Jadi Putra T’Challa di Film Terbaru Marvel

Black Panther III Resmi Digarap, David Jonsson Jadi Putra T’Challa di Film Terbaru Marvel

28/07/2026 10:08
Rajin Makan Buah dan Sayur Bantu Turunkan Risiko Asam Urat, Ini Penjelasan dari Sejumlah Studi

Rajin Makan Buah dan Sayur Bantu Turunkan Risiko Asam Urat, Ini Penjelasan dari Sejumlah Studi

28/07/2026 09:53
Posting berikutnya
Sprunki Cendi OC: Jelajahi Dunia Remix Bertema Permen yang Penuh Keceriaan!

Sprunki Cendi OC: Jelajahi Dunia Remix Bertema Permen yang Penuh Keceriaan!

Jadwal Semifinal Piala AFF U-23 2025: Indonesia vs Thailand Pukul 20.00 WIB

Jadwal Semifinal Piala AFF U-23 2025: Indonesia vs Thailand Pukul 20.00 WIB

Kode Redeem FF Terbaru 25 Juli 2025

Kode Redeem FF Terbaru 25 Juli 2025

Jadwal Semifinal Piala AFF U-23 2025: Indonesia vs Thailand Malam Ini Pukul 20.00 WIB, Live di Indosiar

Jadwal Semifinal Piala AFF U-23 2025: Indonesia vs Thailand Malam Ini Pukul 20.00 WIB, Live di Indosiar

Harga Terbaru Asus Vivobook S14 OLED 2025: Laptop AI Snapdragon dengan Desain Tipis dan Layar Premium

Harga Terbaru Asus Vivobook S14 OLED 2025: Laptop AI Snapdragon dengan Desain Tipis dan Layar Premium

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Berita Lainnya

Penyebrangan Kapal Fery

Cuaca Jalur Penyeberangan Lampung-Ciwandan Aman untuk Pelayaran Kapal Penumpang

16/04/2023 12:28
Masuk Mal di Palembang Tak Gunakan Sertifikat Vaksin Suma.id: Wali Kota Palembang, Harnojoyo, memastikan mal di wilayahnya tidak akan menerapkan aturan wajib menunjukkan sertifikat vaksin covid-19 untuk masyarakat jika ingin masuk ke mal. Pasalnya capaian vaksinasi di Palembang saat ini masih rendah. "Kita (Palembang) tidak ada aturan penggunaan bukti vaksin covid-19 jika ke mal, karena capaian vaksinasi pun masih rendah," kata Harnojoyo di Palembang, Jumat, 13 Agustus 2021. Harnojoyo menjelaskan berdasarkan hasil rekapitulasi vaksinasi covid-19 di Palembang saat ini dari total sasaran 1.242.206 warga, untuk dosis pertama baru terealisasi 28,45% dan dosis kedua 18,18%. "Belum semua orang divaksin, kendalanya karena minimnya stok vaksin," jelasnya. Selain itu pihaknya memastikan bahwa saat ini mal masih ditutup karena Palembang masih menerapkan perpanjangan PPKM Level 4 hingga 23 Agustus 2021. "Mal belum dibuka bertujuan untuk mengurangi mobilitas masyarakat sehingga kasus penularan covid-19 bisa ditekan," ungkapnya. Sementara Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, menolak rencana kebijakan masuk ke mal atau tempat publik lainnya dengan menggunakan kartu vaksin. Menurutnya kebijakan tersebut bisa berlaku jika serapan dan penyaluran vaksin ke daerah sudah tidak terhambat. "Kita tak bisa menyarankan di Sumsel kartu vaksin untuk mengakses tempat-tempat publik. Karena vaksin kita tidak maksimal hanya baru 15 persen," ujarnya.

Masuk Mal di Palembang Tak Gunakan Sertifikat Vaksin

13/08/2021 17:08
Nusantara Jadi Nama Calon Ibu Kota Negara Baru yang Dipilih

Nusantara Jadi Nama Calon Ibu Kota Negara Baru yang Dipilih

17/01/2022 19:10
Sabar Reza Australia Terbuka 2026: Wakil Indonesia Melaju ke 16 Besar Usai Tekuk Pasangan Singapura

Sabar Reza Australia Terbuka 2026: Wakil Indonesia Melaju ke 16 Besar Usai Tekuk Pasangan Singapura

15/06/2026 10:17
Waspada, Kasus Kematian Akibat Covid-19 Meningkat

Anak Usia Sekolah Sumbang 15,15% Kasus Covid-19 Nasional

13/09/2022 16:27
Sumatra Inspirasi Indonesia

Copyright © 2021 SUMA.ID All-Rights-Reserved

Suma.id menjadi rumah berita dan informasi dari seluruh wilayah di Sumatra, termasuk Lampung, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, sampai Nangroe Aceh Darusalam. Suma.id tampil dalam wujud multimedia. Konten tidak hanya berupa teks dan foto, tetapi juga video, audio, grafis, dan videografis. Dengan tidak meninggalkan berita-berita nasional dan internasional

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM

Copyright © 2021 SUMA.ID All-Rights-Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist