SUMA.ID – Perfect Crown tengah menjadi perbincangan hangat di Korea Selatan setelah muncul kritik terkait penggambaran sejarah dalam ceritanya. Kontroversi drama Perfect Crown semakin memanas setelah dua pemeran utamanya, IU dan Byeon Woo-seok, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Drama bergenre romantis fantasi tersebut awalnya mendapat respons positif karena menampilkan visual megah dan chemistry kuat antara para pemainnya. Namun menjelang episode akhir, publik mulai menyoroti sejumlah elemen kerajaan dalam drama yang dianggap tidak sesuai dengan fakta sejarah Korea.
Perdebatan ini pun berkembang luas di media sosial dan forum online Korea Selatan. Banyak penonton merasa bahwa drama tersebut kurang berhati-hati dalam menggunakan simbol serta istilah kerajaan yang memiliki makna sensitif dalam sejarah nasional Korea.
Kontroversi Drama Perfect Crown Bermula dari Adegan Penobatan
Penggunaan Istilah Kerajaan Jadi Pemicu Kritik
Kontroversi utama muncul pada episode ke-11 ketika karakter Pangeran Agung I-an yang diperankan Byeon Woo-seok menjalani prosesi penobatan.
Dalam adegan tersebut, para pejabat kerajaan meneriakkan kata “Cheonse” sebagai doa agar sang pangeran memperoleh masa kekuasaan yang panjang.
Masalahnya, secara historis istilah “Cheonse” memiliki makna yang cukup sensitif dalam sejarah kerajaan Korea.
Dalam tradisi kerajaan Asia Timur, istilah tersebut biasanya digunakan untuk penguasa dari negara bawahan atau vassal state. Sementara kerajaan yang dianggap berdaulat dan independen umumnya menggunakan istilah “Manse” yang berarti 10 ribu tahun.
Banyak penonton Korea menilai penggunaan istilah tersebut tidak tepat karena drama menggambarkan Korea sebagai negara monarki modern yang merdeka.
Kritik semakin besar karena masyarakat Korea sangat sensitif terhadap isu sejarah, terutama yang berkaitan dengan identitas nasional dan simbol kedaulatan negara.
Penggunaan Mahkota Kerajaan Ikut Dipersoalkan
Selain istilah kerajaan, publik juga menyoroti penggunaan mahkota bernama “Guryu Myeonryugwan” dalam drama tersebut.
Mahkota tersebut dianggap memiliki asosiasi historis dengan ritual negara bawahan pada masa lalu.
Karena itu, sebagian penonton menilai pemilihan kostum dan simbol kerajaan dalam Perfect Crown kurang memperhatikan konteks sejarah Korea.
Banyak penggemar drama Korea sebenarnya memahami bahwa Perfect Crown merupakan karya fiksi fantasi. Namun, penggunaan elemen sejarah yang terlalu dekat dengan identitas budaya nyata dianggap tetap perlu dilakukan secara hati-hati.
Perdebatan ini akhirnya memicu diskusi lebih luas mengenai tanggung jawab industri hiburan dalam menggambarkan sejarah dan budaya nasional.
Byeon Woo-seok Sampaikan Permintaan Maaf Terbuka
Menanggapi kontroversi yang berkembang, Byeon Woo-seok mengunggah surat permintaan maaf melalui akun Instagram pribadinya.
Aktor yang sedang naik daun tersebut mengaku menyesal karena kurang mempertimbangkan konteks sejarah dan dampak sosial dari proyek yang ia bintangi.
Dalam pernyataannya, Byeon Woo-seok mengatakan bahwa dirinya banyak belajar dari kritik yang diberikan publik.
Ia juga menyadari bahwa seorang aktor tidak hanya bertanggung jawab terhadap penampilan akting, tetapi juga terhadap pesan yang dibawa sebuah karya.
Menurutnya, pengalaman ini menjadi pelajaran penting agar dirinya lebih berhati-hati dalam memilih proyek dan memahami konteks budaya di masa depan.
Permintaan maaf tersebut mendapat respons beragam dari publik. Sebagian penonton mengapresiasi sikap terbuka Byeon Woo-seok, sementara yang lain tetap berharap produksi drama lebih teliti sejak awal.
IU Ikut Menjadi Sorotan Publik
Sebagai pemeran utama wanita, IU juga ikut menjadi perhatian publik dalam kontroversi ini.
Meski tidak terlibat langsung dalam penulisan naskah atau desain produksi, banyak penggemar meminta para aktor lebih memahami proyek yang mereka bintangi, terutama jika menggunakan latar sejarah dan budaya nasional.
IU sendiri dikenal sebagai salah satu artis Korea paling populer dengan citra positif di industri hiburan.
Karena itu, keterlibatannya dalam drama yang menuai kontroversi cukup mengejutkan sebagian penggemar.
Namun banyak pihak juga menilai bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada tim produksi dan penulis naskah yang menentukan detail historis dalam cerita.
Sensitivitas Sejarah dalam Industri Drama Korea
Kontroversi Perfect Crown kembali menunjukkan bahwa masyarakat Korea Selatan memiliki perhatian besar terhadap representasi sejarah dalam industri hiburan.
Drama Korea sering kali menggunakan unsur kerajaan, sejarah, dan budaya tradisional sebagai bagian dari cerita. Namun kesalahan kecil dalam penggunaan simbol atau istilah tertentu dapat memicu kritik besar.
Hal ini terjadi karena sejarah Korea memiliki hubungan erat dengan isu kolonialisme, identitas nasional, dan kedaulatan negara.
Oleh sebab itu, banyak penonton berharap industri hiburan lebih teliti saat mengadaptasi elemen budaya dan sejarah ke dalam karya modern.
Di sisi lain, kontroversi seperti ini juga menunjukkan besarnya pengaruh drama Korea secara global sehingga detail budaya menjadi semakin diperhatikan publik internasional.
Perfect Crown Tetap Jadi Drama Populer
Meski menuai kritik, Perfect Crown masih menjadi salah satu drama Korea paling banyak dibicarakan tahun ini.
Visual sinematik, chemistry para pemain, serta jalan cerita romantis fantasi membuat drama tersebut tetap memiliki basis penggemar yang besar.
Namun kontroversi ini diperkirakan akan menjadi evaluasi penting bagi rumah produksi drama Korea di masa mendatang.
Ke depan, banyak pihak berharap produksi drama dengan unsur sejarah dapat melibatkan lebih banyak konsultan budaya dan ahli sejarah agar terhindar dari kesalahan serupa.
Kesimpulan
Kontroversi drama Perfect Crown menjadi pengingat bahwa penggunaan elemen sejarah dalam industri hiburan membutuhkan kehati-hatian tinggi.
Permintaan maaf dari IU dan Byeon Woo-seok menunjukkan bahwa para aktor menyadari pentingnya tanggung jawab moral dalam sebuah karya.
Meski drama ini merupakan karya fiksi, publik Korea tetap berharap representasi budaya dan simbol sejarah dilakukan secara lebih akurat dan sensitif.
Di tengah popularitas global drama Korea yang terus meningkat, perhatian terhadap detail budaya dan sejarah kemungkinan akan menjadi aspek yang semakin penting di masa depan.





