SUMA.ID –Moh Zaki Ubaidillah mengaku mulai merasakan besarnya tanggung jawab sebagai bagian dari generasi penerus tunggal putra Indonesia. Setelah sejumlah pemain senior meninggalkan Pelatnas PBSI, harapan untuk menjaga prestasi sektor tunggal putra kini berada di pundak Anthony Sinisuka Ginting, Alwi Farhan, dan dirinya.
Pebulu tangkis berusia 19 tahun tersebut mengakui bahwa dirinya mulai merasakan besarnya tanggung jawab sebagai bagian dari regenerasi tunggal putra Indonesia. Bersama Anthony Sinisuka Ginting dan Alwi Farhan, Ubed kini menjadi salah satu pemain yang diharapkan mampu menjaga tradisi prestasi bulu tangkis Indonesia di level internasional.
Perubahan besar yang terjadi di Pelatnas PBSI Cipayung membuat sektor tunggal putra memasuki fase transisi yang cukup menantang. Namun di balik tekanan tersebut, muncul peluang bagi pemain muda untuk membuktikan kualitas dan kemampuannya di panggung dunia.
Regenerasi Tunggal Putra PBSI Memasuki Fase Transisi
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor tunggal putra Indonesia mengalami perubahan signifikan. Sejumlah pemain yang selama ini menjadi andalan tim nasional memutuskan mengambil jalan berbeda dalam karier mereka.
Jonatan Christie dan Chico Aura Dwi Wardoyo memilih keluar dari Pelatnas untuk menjalani karier profesional secara mandiri. Di sisi lain, Yohanes Saut Marcellyno Siahaan juga tidak lagi menjadi bagian dari skuad utama PBSI.
Kepergian sejumlah pemain tersebut membuat komposisi tunggal putra Indonesia berubah drastis. Kini hanya tersisa beberapa nama yang menjadi tulang punggung sektor tersebut, termasuk Anthony Ginting sebagai pemain paling senior, serta Alwi Farhan dan Moh Zaki Ubaidillah sebagai generasi penerus.
Situasi ini secara otomatis meningkatkan ekspektasi publik terhadap para pemain muda. Mereka tidak hanya dituntut tampil kompetitif, tetapi juga harus mampu menjaga reputasi Indonesia sebagai salah satu kekuatan besar bulu tangkis dunia.
Ubed Mengakui Adanya Beban Sebagai Generasi Penerus
Sebagai pemain muda yang mulai mendapatkan kesempatan tampil di berbagai turnamen internasional, Ubed tidak menampik adanya tekanan yang ia rasakan. Menurutnya, posisi saat ini membuat dirinya harus lebih siap menghadapi tantangan yang semakin besar.
Meski demikian, Ubed melihat tekanan tersebut sebagai bagian dari proses yang harus dijalani oleh setiap atlet profesional. Ia menyadari bahwa regenerasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam dunia olahraga.
Pemain asal Madura tersebut mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Anthony Ginting dan Alwi Farhan menjadi salah satu cara untuk menghadapi situasi tersebut. Ketiganya sering berdiskusi mengenai berbagai hal, mulai dari persiapan pertandingan hingga cara menjaga mental ketika menghadapi tekanan.
Hubungan yang erat di antara para pemain tunggal putra menjadi modal penting untuk menghadapi masa transisi yang sedang berlangsung di Pelatnas PBSI.
Anthony Ginting Berbagi Pengalaman Berharga
Dalam proses regenerasi ini, Anthony Sinisuka Ginting memiliki peran yang sangat penting. Sebagai pemain paling senior yang masih berada di Pelatnas, Ginting tidak hanya menjadi andalan di lapangan, tetapi juga mentor bagi pemain-pemain muda.
Menurut Ubed, Ginting sering membagikan pengalaman saat dirinya masih berada dalam fase yang sama beberapa tahun lalu. Kala itu, Ginting dan Jonatan Christie juga harus berkembang tanpa banyak sosok senior yang dapat menjadi panutan.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Ubed dan Alwi Farhan. Mereka bisa memahami bahwa tekanan sebagai generasi penerus bukanlah hal baru dalam bulu tangkis Indonesia.
Melalui cerita dan pengalaman yang dibagikan Ginting, para pemain muda belajar bagaimana menjaga fokus, mengelola ekspektasi, dan tetap berkembang meski berada dalam situasi yang penuh tantangan.
Mental Jadi Kunci Bersaing di Level Dunia
Selain kemampuan teknik dan fisik, Ubed menilai bahwa faktor mental menjadi aspek yang sangat menentukan dalam perjalanan karier seorang atlet bulu tangkis.
Ia mengaku memiliki ambisi besar untuk meraih prestasi di level internasional. Namun menurutnya, semangat dan keinginan untuk menang saja tidak cukup ketika harus berhadapan dengan pemain-pemain elite dunia.
Mental yang kuat dibutuhkan untuk menghadapi tekanan pertandingan, menjaga konsentrasi, serta tetap tenang dalam situasi sulit. Hal inilah yang terus dipelajari Ubed dari para pemain senior yang telah lebih dahulu berpengalaman di panggung internasional.
Bagi Ubed, setiap kesempatan bertanding melawan pemain top dunia merupakan pelajaran berharga yang dapat mempercepat proses perkembangan dirinya sebagai atlet profesional.
Target Ambisius di Japan Open 2026
Dalam waktu dekat, Ubed akan menghadapi salah satu tantangan terbesarnya musim ini, yaitu Japan Open 2026 yang berlangsung di Tokyo pada 14 hingga 19 Juli.
Meski lolos ke babak utama melalui daftar cadangan kedua, Ubed tidak ingin hanya sekadar tampil dan menambah pengalaman. Ia datang dengan target yang cukup tinggi, yakni menembus babak perempat final atau delapan besar.
Target tersebut tentu tidak mudah dicapai. Persaingan di turnamen BWF World Tour Super 750 dikenal sangat ketat karena diikuti oleh para pemain terbaik dunia.
Bahkan jika berhasil melewati pertandingan pertama, Ubed berpotensi menghadapi lawan tangguh seperti Anders Antonsen dari Denmark atau Toma Junior Popov dari Prancis.
Meski demikian, Ubed memilih untuk fokus pada setiap pertandingan yang dijalani. Baginya, langkah demi langkah menjadi pendekatan terbaik untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
Harapan Baru Tunggal Putra Indonesia
Regenerasi yang sedang berlangsung memang menghadirkan tantangan besar bagi sektor tunggal putra Indonesia. Namun kondisi ini juga membuka peluang bagi lahirnya bintang-bintang baru yang siap mengharumkan nama bangsa.
Moh Zaki Ubaidillah menjadi salah satu pemain yang diproyeksikan sebagai masa depan bulu tangkis Indonesia. Dengan dukungan pemain senior seperti Anthony Ginting, semangat belajar yang tinggi, serta pengalaman bertanding yang terus bertambah, Ubed memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pemain kelas dunia.
Keberhasilan proses regenerasi tunggal putra PBSI nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan para pemain muda dalam menjawab tantangan tersebut. Jika mampu melewati fase transisi dengan baik, Indonesia berpotensi kembali melahirkan generasi emas yang dapat bersaing dan meraih prestasi di level internasional.








