Tuesday, August 18, 2026
Sumatra Inspirasi Indonesia
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Sumatra Inspirasi Indonesia
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Sumatra Inspirasi Indonesia
Beranda LIFESTYLE TEKNOLOGI

Angin Pembunuh Galaksi Terungkap oleh Teleskop James Webb, Benarkah Jadi Masa Depan Bima Sakti?

Angin Pembunuh Galaksi Terungkap oleh Teleskop James Webb, Benarkah Jadi Masa Depan Bima Sakti?

cecil Editor cecil
05/07/2026 10:11
in TEKNOLOGI
A A
Angin Pembunuh Galaksi Terungkap oleh Teleskop James Webb, Benarkah Jadi Masa Depan Bima Sakti?

Ilustrasi sistem galaksi CRISTAL-02, dengan aliran gas yang keluar hampir sama besarnya dengan sistem itu sendiri, menunjukkan bahwa gas pembentuk bintang sedang mengalir.(Joshua Worth melalui lisensi Creative Commons CC-BY)

Share on FacebookShare on Twitter

SUMA.ID – Angin Pembunuh Galaksi menjadi salah satu penemuan astronomi paling menarik dalam beberapa tahun terakhir. Berkat pengamatan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan akhirnya mendapatkan bukti langsung mengenai proses yang diduga mampu menghentikan kelahiran bintang-bintang baru di dalam sebuah galaksi.

Fenomena ini memberikan jawaban atas misteri besar yang telah lama membingungkan para astronom. Selama bertahun-tahun, para peneliti mengetahui bahwa banyak galaksi di alam semesta awal tumbuh dengan sangat cepat dan mencapai ukuran masif hanya dalam waktu sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagian galaksi tersebut tiba-tiba berhenti membentuk bintang baru dan berubah menjadi galaksi yang “mati” atau tidak aktif.

Kini, melalui kombinasi pengamatan dari James Webb Space Telescope dan teleskop radio ALMA di Chile, para ilmuwan menemukan bahwa penyebabnya kemungkinan adalah semburan gas raksasa yang dikenal sebagai angin galaksi. Fenomena ini bekerja seperti mekanisme penghancur yang secara perlahan menghilangkan bahan baku utama pembentukan bintang.

BacaJuga

Angin Matahari di Bulan Melambat, Temuan Ilmuwan Tiongkok Buka Wawasan Baru untuk Eksplorasi Antariksa

NASA Ungkap Rahasia Gunung Berapi Io, Bagian Dalam Bulan Jupiter Berhasil Dipetakan

Ekor Komet Lemmon Robek Akibat Ledakan Matahari, NASA Ungkap Fenomena Langka di Ruang Angkasa

HP Samsung Murah Terbaik 2026: Galaxy A07 RAM 8GB dengan Helio G99 Harga Mulai Rp1 Jutaan

Angin Pembunuh Galaksi dan Misteri Kematian Galaksi Purba
Dalam dunia astronomi, tabrakan atau merger galaksi merupakan proses yang umum terjadi. Berbeda dengan kecelakaan yang bersifat destruktif, tabrakan galaksi biasanya berlangsung secara perlahan selama jutaan hingga miliaran tahun dan menghasilkan struktur kosmik baru yang lebih besar.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses penggabungan dua galaksi dapat memicu efek samping yang sangat besar. Ketika dua galaksi bertabrakan, aktivitas pembentukan bintang meningkat drastis. Ribuan hingga jutaan bintang baru lahir dalam waktu yang relatif singkat.

Masalahnya, ledakan pembentukan bintang tersebut juga menghasilkan banyak supernova atau kematian bintang masif. Ledakan supernova inilah yang menciptakan angin galaksi sangat kuat yang mampu menyapu dan membuang gas-gas penting dari dalam galaksi.

Tanpa gas dingin yang cukup, proses pembentukan bintang baru tidak dapat berlangsung. Akibatnya, galaksi perlahan kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan generasi bintang berikutnya dan akhirnya memasuki fase tidak aktif.

Penemuan Penting pada Galaksi CRISTAL-02
Fokus penelitian kali ini adalah sebuah sistem galaksi bernama CRISTAL-02. Galaksi tersebut terbentuk sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang dan memiliki massa sekitar 10 miliar kali lebih besar dibandingkan Matahari.

CRISTAL-02 menarik perhatian para astronom karena menunjukkan tanda-tanda aktivitas ekstrem yang terjadi setelah proses merger galaksi. Melalui data yang diperoleh JWST dan ALMA, ilmuwan menemukan adanya semburan gas raksasa yang hampir sepanjang ukuran galaksi itu sendiri.

Gas tersebut bergerak menjauh dari pusat galaksi dengan kecepatan sangat tinggi, mencapai ratusan mil per detik. Total massa material yang terlempar diperkirakan mencapai sekitar 1,5 miliar kali massa Matahari.

Penemuan ini menjadi bukti langsung pertama bahwa angin galaksi benar-benar mampu mengeluarkan gas dalam jumlah besar hingga menghentikan proses pembentukan bintang.

Mengapa Angin Galaksi Bisa Mematikan Pembentukan Bintang?
Pembentukan bintang membutuhkan awan gas molekuler dingin yang padat. Dalam kondisi normal, gravitasi akan menarik gas tersebut hingga membentuk inti yang kemudian berkembang menjadi bintang baru.

Namun ketika terjadi ledakan pembentukan bintang dalam skala besar, energi yang dilepaskan oleh supernova dan radiasi bintang masif menciptakan tekanan luar biasa kuat.

Tekanan tersebut menghasilkan angin galaksi yang memanaskan serta membuyarkan awan gas dingin. Akibatnya, gas tidak lagi dapat berkumpul dan runtuh karena gravitasi.

Dalam kasus CRISTAL-02, laju pembentukan bintang mencapai sekitar 260 kali massa Matahari setiap tahun. Namun di saat yang sama, galaksi tersebut kehilangan lebih dari 500 kali massa Matahari per tahun akibat embusan angin kosmik yang sangat kuat.

Artinya, gas yang keluar dari galaksi lebih banyak dibandingkan gas yang digunakan untuk menciptakan bintang baru. Jika kondisi ini terus berlangsung, bahan baku pembentukan bintang akan habis dalam waktu relatif singkat menurut ukuran kosmik.

Apa Dampaknya bagi Evolusi Alam Semesta?
Penemuan ini sangat penting karena membantu menjelaskan mengapa banyak galaksi masif di alam semesta awal berubah menjadi galaksi pasif dalam waktu yang relatif cepat.

Sebelumnya, para astronom hanya memiliki teori bahwa angin galaksi menjadi penyebab utama. Namun bukti observasional yang jelas masih sangat terbatas.

Kini, keberadaan CRISTAL-02 menunjukkan proses tersebut sedang berlangsung secara nyata. Para ilmuwan dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah galaksi kehilangan cadangan gasnya dan perlahan menuju fase kematian.

Temuan ini juga membantu memahami bagaimana struktur alam semesta berkembang dari masa ke masa. Banyak galaksi yang saat ini terlihat tenang dan tidak aktif kemungkinan pernah mengalami fase ledakan pembentukan bintang dan kehilangan gas seperti yang terjadi pada CRISTAL-02.

Apakah Bima Sakti Akan Mengalami Nasib Serupa?
Salah satu aspek paling menarik dari penelitian ini adalah kaitannya dengan masa depan Galaksi Bima Sakti.

Para astronom memperkirakan bahwa sekitar 4,5 miliar tahun mendatang, Bima Sakti akan bertabrakan dengan Galaksi Andromeda. Kedua galaksi raksasa tersebut akan bergabung dan membentuk struktur baru yang jauh lebih besar.

Peristiwa tersebut diperkirakan memicu ledakan pembentukan bintang dalam skala besar, mirip dengan yang diamati pada CRISTAL-02. Bersamaan dengan itu, kemungkinan besar akan muncul angin galaksi yang sangat kuat.

Jika skenario tersebut benar terjadi, Bima Sakti dan Andromeda dapat kehilangan sebagian besar cadangan gasnya. Dalam jangka panjang, sistem gabungan tersebut mungkin berubah menjadi galaksi elips raksasa yang tidak lagi aktif membentuk bintang baru.

Meski terdengar dramatis, proses ini merupakan bagian alami dari siklus evolusi galaksi. Dalam skala waktu kosmik, kelahiran, pertumbuhan, hingga kematian galaksi merupakan tahapan yang normal terjadi di seluruh alam semesta.

Penemuan Angin Pembunuh Galaksi oleh Teleskop James Webb tidak hanya mengungkap misteri masa lalu alam semesta, tetapi juga memberikan gambaran tentang masa depan yang mungkin akan dialami oleh galaksi tempat manusia tinggal saat ini. Dengan kemampuan observasi yang semakin canggih, para astronom kini semakin dekat untuk memahami bagaimana alam semesta berevolusi dari awal penciptaannya hingga miliaran tahun ke depan.

Tags: AnginPembunuhGalaksiAstronomiGalaksiJamesWebbJamesWebbSpaceTelescopeJWSTSainsAntariksa
Posting Sebelumnya

Vera Wang Usia 77 Tahun Curi Perhatian dengan Penampilan Berani di Karpet Merah

Posting berikutnya

Keamanan Siber Keluarga di Indonesia: Peran Penting Family Digital Manager di Era Digital

cecil

cecil

BeritaTerkait

Ekor Komet Lemmon Robek Akibat Ledakan Matahari, NASA Ungkap Fenomena Langka di Ruang Angkasa

Ekor Komet Lemmon Robek Akibat Ledakan Matahari, NASA Ungkap Fenomena Langka di Ruang Angkasa

26/07/2026 10:08
Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 Pecahkan Rekor, Fenomena Langka yang Melintasi Tiga Benua

Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 Pecahkan Rekor, Fenomena Langka yang Melintasi Tiga Benua

23/07/2026 09:35
Bumi Tidak Mengorbit Matahari? Fakta Barycenter yang Diungkap NASA tentang Tata Surya

Bumi Tidak Mengorbit Matahari? Fakta Barycenter yang Diungkap NASA tentang Tata Surya

20/07/2026 10:08
Observatorium Rubin Mulai Rekam Film Kosmik Terbesar dalam Sejarah Astronomi

Observatorium Rubin Mulai Rekam Film Kosmik Terbesar dalam Sejarah Astronomi

16/07/2026 13:16
Jutaan Planet di Dekat Lubang Hitam Supermasif: Penemuan Baru yang Mengubah Teori Pembentukan Planet

Jutaan Planet di Dekat Lubang Hitam Supermasif: Penemuan Baru yang Mengubah Teori Pembentukan Planet

30/06/2026 14:34
Posting berikutnya
Keamanan Siber Keluarga di Indonesia: Peran Penting Family Digital Manager di Era Digital

Keamanan Siber Keluarga di Indonesia: Peran Penting Family Digital Manager di Era Digital

Sinopsis Film Still Hope: Kisah Perjuangan Remaja Bangkit dari Trauma dan Menemukan Harapan Baru

Sinopsis Film Still Hope: Kisah Perjuangan Remaja Bangkit dari Trauma dan Menemukan Harapan Baru

Penutupan Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango 23-29 Juli 2026, Dukung Ajang Internasional JOTR

Penutupan Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango 23-29 Juli 2026, Dukung Ajang Internasional JOTR

Anak Liam Payne Jadi Ahli Waris Tunggal Rp470 Miliar, Seluruh Harta Warisan Disimpan dalam Trust

Anak Liam Payne Jadi Ahli Waris Tunggal Rp470 Miliar, Seluruh Harta Warisan Disimpan dalam Trust

Kafein dan Migrain: Perubahan Pola Konsumsi Kopi Bisa Memperparah Sakit Kepala

Kafein dan Migrain: Perubahan Pola Konsumsi Kopi Bisa Memperparah Sakit Kepala

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Berita Lainnya

Sprunki: Mengupas Tiga Seri Klasik yang Merevolusi Game Musik Interaktif

Sprunki: Mengupas Tiga Seri Klasik yang Merevolusi Game Musik Interaktif

18/09/2025 12:00
Prof Lusmeilia Afriani Terpilih Menjadi Rektor Unila 2023-2027

Prof Lusmeilia Afriani Terpilih Menjadi Rektor Unila 2023-2027

28/12/2022 20:06
Jumlah Daerah PPKM Level 4 Berkurang

Jumlah Daerah PPKM Level 4 Berkurang

06/09/2021 23:37
Lagu NDOKASIN Ciptaan Desta Resmi Dirilis Jelang Film Warkop DKI Viralin Dong Tayang

Lagu NDOKASIN Ciptaan Desta Resmi Dirilis Jelang Film Warkop DKI Viralin Dong Tayang

29/05/2026 11:39
Wartawan Senior Lampung Post Hesma Eryani Wafat

Wartawan Senior Lampung Post Hesma Eryani Wafat

16/07/2021 16:33
Sumatra Inspirasi Indonesia

Copyright © 2021 SUMA.ID All-Rights-Reserved

Suma.id menjadi rumah berita dan informasi dari seluruh wilayah di Sumatra, termasuk Lampung, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, sampai Nangroe Aceh Darusalam. Suma.id tampil dalam wujud multimedia. Konten tidak hanya berupa teks dan foto, tetapi juga video, audio, grafis, dan videografis. Dengan tidak meninggalkan berita-berita nasional dan internasional

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM

Copyright © 2021 SUMA.ID All-Rights-Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist