Monday, October 26, 2026
Sumatra Inspirasi Indonesia
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Sumatra Inspirasi Indonesia
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Sumatra Inspirasi Indonesia
Beranda LIFESTYLE TEKNOLOGI

Rotasi Bumi Melambat Akibat Perubahan Iklim: Hari di Bumi Makin Panjang dalam 3,6 Juta Tahun

Rotasi Bumi Melambat Akibat Perubahan Iklim: Hari di Bumi Makin Panjang dalam 3,6 Juta Tahun

cecil Editor cecil
11/06/2026 13:18
in TEKNOLOGI
A A
Rotasi Bumi Melambat Akibat Perubahan Iklim: Hari di Bumi Makin Panjang dalam 3,6 Juta Tahun

Ilustrasi.(Magnific)

Share on FacebookShare on Twitter

SUMA.ID – Fenomena rotasi Bumi melambat akibat perubahan iklim kini menjadi perhatian besar di kalangan ilmuwan. Studi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas manusia, terutama yang menyebabkan pemanasan global, tidak hanya berdampak pada suhu Bumi, tetapi juga pada perputaran planet ini. Akibatnya, panjang hari di Bumi mengalami perubahan meskipun sangat kecil, yakni dalam hitungan milidetik.

Para peneliti dari University of Vienna dan ETH Zurich menemukan bahwa perubahan ini berkaitan erat dengan mencairnya es di kutub serta gletser di berbagai wilayah dunia. Ketika es mencair, air berpindah dari wilayah kutub menuju lautan dan menyebar ke area yang lebih dekat dengan garis khatulistiwa. Perpindahan massa ini ternyata cukup untuk memengaruhi keseimbangan rotasi Bumi.

Dampak Rotasi Bumi Melambat Akibat Perubahan Iklim Terhadap Panjang Hari

BacaJuga

iPhone 18 Pro Resmi Masuk Indonesia, Ini Harga dan Spesifikasinya

5 Cara Cek Nomor HP Tidak Dikenal, Waspadai Spam dan Penipuan

Samsung Galaxy Tab S12 Series Resmi Meluncur: Spesifikasi, Fitur AI, dan Harga

Desa Shipden: Teknologi 3D Ungkap Permukiman yang Hilang di Dasar Laut

Dalam konteks ilmiah, rotasi Bumi melambat akibat perubahan iklim berdampak langsung pada bertambahnya durasi satu hari di Bumi. Meski manusia tidak merasakannya secara langsung dalam aktivitas sehari-hari, para ilmuwan mencatat bahwa setiap abad, panjang hari bertambah sekitar 1,33 milidetik.

Perubahan ini terjadi karena prinsip fisika sederhana: ketika massa suatu benda yang berputar menjauh dari pusat rotasi, kecepatannya akan menurun. Hal ini diibaratkan seperti seorang atlet seluncur indah yang memutar tubuhnya. Saat tangan direntangkan, putaran menjadi lebih lambat dibandingkan ketika tangan dirapatkan.

Dengan kata lain, redistribusi air dari kutub ke wilayah lain di Bumi menyebabkan “keseimbangan baru” dalam sistem rotasi planet ini.

Pencairan Es Kutub dan Redistribusi Massa Bumi

Penyebab utama dari fenomena rotasi Bumi melambat akibat perubahan iklim adalah mencairnya lapisan es di Greenland, Antarktika, serta gletser di berbagai pegunungan dunia. Ketika es mencair, miliaran ton air berpindah ke lautan global.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 1.000 gigaton massa telah berpindah dari wilayah kutub ke lautan. Jumlah ini sangat besar hingga dapat dianalogikan sebagai kubus es setinggi 10 kilometer yang jika ditempatkan di kota besar seperti New York akan menjulang jauh melebihi Gunung Everest.

Perubahan distribusi massa inilah yang kemudian mengubah momen inersia Bumi, sehingga memperlambat kecepatannya dalam berputar.

Mengapa Fenomena Ini Disebut Paling Ekstrem dalam 3,6 Juta Tahun

Berdasarkan analisis data geologi, para peneliti menilai bahwa laju rotasi Bumi melambat akibat perubahan iklim saat ini merupakan yang paling signifikan dalam 3,6 juta tahun terakhir.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para ilmuwan menelusuri catatan masa lalu menggunakan fosil mikroorganisme laut yang disebut bentik foraminifera. Organisme ini menyimpan jejak kimia yang dapat digunakan untuk merekonstruksi perubahan lingkungan dan permukaan laut di masa lampau.

Selain itu, teknologi machine learning juga digunakan untuk membantu membaca data yang sangat kompleks dan penuh ketidakpastian dari masa geologi purba.

Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun pernah ada periode sekitar dua juta tahun lalu dengan perubahan serupa, kondisi tersebut dipicu oleh faktor alam ekstrem seperti peningkatan karbon dioksida alami dan pencairan es skala besar. Namun, kejadian saat ini berbeda karena dipicu oleh aktivitas manusia dalam waktu yang relatif sangat singkat.

Dampak pada Teknologi Modern dan Sistem Navigasi

Walaupun perubahan akibat rotasi Bumi melambat akibat perubahan iklim hanya terjadi dalam skala milidetik, dampaknya sangat penting untuk teknologi modern yang membutuhkan presisi waktu sangat tinggi.

Sistem seperti GPS, navigasi satelit, hingga pengaturan waktu global bergantung pada kestabilan rotasi Bumi. Bahkan selisih waktu sekecil milidetik dapat memengaruhi akurasi posisi dan sinkronisasi sistem teknologi di seluruh dunia.

Para peneliti juga menyebut bahwa jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, maka pada akhir abad ini, pengaruh perubahan iklim terhadap rotasi Bumi bisa melampaui efek gravitasi Bulan, yang selama ini menjadi faktor dominan dalam perlambatan rotasi planet.

Selain itu, energi yang terlibat dalam perubahan ini sangat besar. Ilmuwan membandingkannya dengan energi gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,0, meskipun bukan berarti menimbulkan kerusakan seperti gempa, melainkan menunjukkan skala energi yang bekerja dalam sistem Bumi.

Kesimpulan

Penelitian terbaru ini memperlihatkan bahwa rotasi Bumi melambat akibat perubahan iklim bukan lagi sekadar teori, melainkan fenomena nyata yang dapat diukur secara ilmiah. Meski dampaknya tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari, perubahan ini menunjukkan betapa besar pengaruh aktivitas manusia terhadap sistem planet secara keseluruhan.

Dengan pemahaman ini, ilmuwan berharap kesadaran terhadap perubahan iklim semakin meningkat, karena dampaknya ternyata tidak hanya pada cuaca dan lingkungan, tetapi juga pada mekanisme fundamental Bumi itu sendiri.

Tags: AstronomiBumiFaktaSainsIlmuPengetahuanPemanasanGlobalPerubahanIklimRotasiBumi
Posting Sebelumnya

Duffy Kembali ke Panggung Musik Setelah 15 Tahun Vakum, Siap Sapa Penggemar dengan Lagu Baru

Posting berikutnya

Marc Marquez Bahagia Usai Juara Lagi di MotoGP Hungaria 2026 Setelah Puasa 266 Hari

cecil

cecil

BeritaTerkait

Bintang Zombie Sinar-X Berkedip Berulang, Ini Rahasia di Balik Fenomena Kosmik

Bintang Zombie Sinar-X Berkedip Berulang, Ini Rahasia di Balik Fenomena Kosmik

28/09/2026 14:14
Ekor Komet Lemmon Robek Akibat Ledakan Matahari, NASA Ungkap Fenomena Langka di Ruang Angkasa

Ekor Komet Lemmon Robek Akibat Ledakan Matahari, NASA Ungkap Fenomena Langka di Ruang Angkasa

26/07/2026 10:08
Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 Pecahkan Rekor, Fenomena Langka yang Melintasi Tiga Benua

Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 Pecahkan Rekor, Fenomena Langka yang Melintasi Tiga Benua

23/07/2026 09:35
Bumi Tidak Mengorbit Matahari? Fakta Barycenter yang Diungkap NASA tentang Tata Surya

Bumi Tidak Mengorbit Matahari? Fakta Barycenter yang Diungkap NASA tentang Tata Surya

20/07/2026 10:08
Observatorium Rubin Mulai Rekam Film Kosmik Terbesar dalam Sejarah Astronomi

Observatorium Rubin Mulai Rekam Film Kosmik Terbesar dalam Sejarah Astronomi

16/07/2026 13:16
Posting berikutnya
Marc Marquez Bahagia Usai Juara Lagi di MotoGP Hungaria 2026 Setelah Puasa 266 Hari

Marc Marquez Bahagia Usai Juara Lagi di MotoGP Hungaria 2026 Setelah Puasa 266 Hari

Mengenal Elite Controller HIV: Harapan Baru Penyembuhan Alami Tanpa Obat ARV

Mengenal Elite Controller HIV: Harapan Baru Penyembuhan Alami Tanpa Obat ARV

Angin Kosmik Lubang Hitam Bima Sakti Akhirnya Ditemukan Setelah 50 Tahun Pencarian

Angin Kosmik Lubang Hitam Bima Sakti Akhirnya Ditemukan Setelah 50 Tahun Pencarian

Vaksin AI untuk Pandemi Masa Depan, Terobosan Baru yang Berpotensi Melawan Berbagai Virus Sekaligus

Raymond Indra Nikolaus Joaquin Indonesia Terbuka 2026: Runner-up yang Menjadi Bukti Sukses Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia

Raymond Indra Nikolaus Joaquin Indonesia Terbuka 2026: Runner-up yang Menjadi Bukti Sukses Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Berita Lainnya

Ismail Sabri Yaakob Jadi PM Malaysia yang Baru

Ismail Sabri Yaakob Jadi PM Malaysia yang Baru

20/08/2021 20:18
Khilafatul Muslimin di Kaur Bengkulu Membubarkan Diri

Khilafatul Muslimin di Kaur Bengkulu Membubarkan Diri

17/06/2022 18:32
Kasus Covid-19 Merebak, Warga Xiamen Diimbau di Rumah Saja

Kasus Covid-19 Merebak, Warga Xiamen Diimbau di Rumah Saja

20/09/2021 17:49
9 Smartphone dengan Kamera Kualitas DSLR Terbaik di 2024: Fotografi Profesional dalam Satu Genggaman

9 Smartphone dengan Kamera Kualitas DSLR Terbaik di 2024: Fotografi Profesional dalam Satu Genggaman

25/08/2025 09:00
Strategi Mengalahkan Zombie Basoka Salju dan Panci Besar di PVZ Fusion 2.3

Strategi Mengalahkan Zombie Basoka Salju dan Panci Besar di PVZ Fusion 2.3

28/08/2025 15:00
Sumatra Inspirasi Indonesia

Copyright © 2021 SUMA.ID All-Rights-Reserved

Suma.id menjadi rumah berita dan informasi dari seluruh wilayah di Sumatra, termasuk Lampung, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, sampai Nangroe Aceh Darusalam. Suma.id tampil dalam wujud multimedia. Konten tidak hanya berupa teks dan foto, tetapi juga video, audio, grafis, dan videografis. Dengan tidak meninggalkan berita-berita nasional dan internasional

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • HIBURAN
  • KESEHATAN
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • MUSIK
  • FILM

Copyright © 2021 SUMA.ID All-Rights-Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist