SUMA.ID – Fruktosa berlebih tidak hanya berasal dari buah-buahan, tetapi juga banyak ditemukan pada minuman manis, makanan olahan, hingga berbagai produk yang mengandung gula tambahan. Meski buah dikenal sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan, konsumsi fruktosa dalam jumlah berlebihan tetap perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti asam urat, hipertensi, hingga gangguan metabolisme.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof. Antonius Suwanto. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua gula diproses tubuh dengan cara yang sama. Fruktosa memiliki jalur metabolisme yang berbeda dibandingkan glukosa sehingga dapat memberikan dampak yang berbeda pula terhadap kesehatan.
Fruktosa Berlebih Diproses Berbeda oleh Tubuh
Fruktosa merupakan gula alami yang banyak ditemukan pada buah-buahan, terutama buah yang memiliki rasa manis tinggi. Selain berasal dari buah, fruktosa juga banyak terkandung dalam gula pasir, sirup jagung tinggi fruktosa, minuman kemasan, makanan ringan, hingga berbagai produk olahan.
Berbeda dengan glukosa yang dapat dimanfaatkan hampir oleh seluruh sel tubuh sebagai sumber energi, sebagian besar fruktosa diproses di organ hati. Ketika jumlah fruktosa yang masuk ke dalam tubuh terlalu banyak, hati akan mengubahnya menjadi lemak melalui proses yang dikenal sebagai lipogenesis.
Proses tersebut membutuhkan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP) dalam jumlah besar. Ketika ATP digunakan secara berlebihan, tubuh menghasilkan produk sampingan berupa asam urat yang dapat menumpuk jika kadarnya terus meningkat.
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi gula berlebih, khususnya fruktosa, sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit metabolik.
Mengapa Fruktosa Bisa Memicu Asam Urat?
Menurut Prof. Antonius Suwanto, peningkatan kadar asam urat akibat konsumsi fruktosa bukan hanya menyebabkan nyeri sendi atau penyakit gout. Dampaknya juga dapat meluas ke berbagai fungsi tubuh lainnya.
Asam urat yang tinggi dapat mengurangi produksi nitric oxide, yaitu senyawa yang berfungsi menjaga elastisitas pembuluh darah. Jika kadar nitric oxide menurun, pembuluh darah menjadi lebih kaku sehingga tekanan darah berpotensi meningkat.
Kondisi inilah yang kemudian dapat memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi apabila terjadi secara terus-menerus.
Selain itu, penumpukan lemak akibat metabolisme fruktosa juga berpotensi meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, hingga penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD).
Perbedaan Glukosa dan Fruktosa
Meski sama-sama termasuk jenis gula sederhana, glukosa dan fruktosa memiliki mekanisme kerja yang berbeda di dalam tubuh.
Glukosa
- Digunakan hampir seluruh sel tubuh sebagai sumber energi.
- Lebih mudah dimanfaatkan secara langsung.
- Tidak menghasilkan asam urat dalam jumlah besar saat dimetabolisme.
Fruktosa
- Sebagian besar diproses di hati.
- Lebih mudah diubah menjadi lemak ketika dikonsumsi berlebihan.
- Menghasilkan produk sampingan berupa asam urat.
- Berpotensi meningkatkan risiko hipertensi dan gangguan metabolisme.
Perbedaan inilah yang membuat para ahli menyarankan agar konsumsi makanan dan minuman tinggi fruktosa tetap dibatasi.
Warisan Evolusi yang Kini Menjadi Tantangan
Kemampuan tubuh mengubah fruktosa menjadi cadangan lemak sebenarnya merupakan mekanisme alami yang diwariskan sejak zaman nenek moyang manusia.
Pada masa lampau, buah hanya tersedia pada musim tertentu. Ketika buah melimpah, tubuh menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak sebagai persediaan menghadapi masa ketika makanan sulit diperoleh.
Namun, kondisi tersebut sangat berbeda dengan kehidupan modern saat ini. Berbagai sumber fruktosa tersedia sepanjang tahun, mulai dari buah, minuman berpemanis, makanan cepat saji, hingga camilan olahan.
Akibatnya, tubuh terus menerima asupan fruktosa tanpa jeda sehingga mekanisme yang dulunya membantu manusia bertahan hidup justru berpotensi memicu penyakit metabolik.
Cara Aman Mengonsumsi Buah
Meski memiliki kandungan fruktosa, buah tetap merupakan bagian penting dari pola makan sehat. Buah mengandung serat, vitamin, mineral, antioksidan, serta berbagai zat gizi yang mendukung kesehatan tubuh.
Agar manfaatnya tetap optimal, masyarakat dianjurkan mengonsumsi buah secara seimbang dan tidak berlebihan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengonsumsi buah utuh dibandingkan jus buah yang ditambah gula.
- Membatasi konsumsi minuman berpemanis dan makanan olahan tinggi gula.
- Memilih buah dengan kandungan serat tinggi.
- Menyesuaikan porsi buah dengan kebutuhan harian.
- Menjalani pola makan bergizi seimbang serta rutin berolahraga.
Dengan cara tersebut, tubuh tetap memperoleh manfaat nutrisi dari buah tanpa meningkatkan risiko gangguan metabolisme akibat kelebihan fruktosa.
Pentingnya Mengendalikan Asupan Gula
Para ahli menekankan bahwa yang perlu dihindari bukanlah buah, melainkan konsumsi gula secara berlebihan, terutama dari makanan dan minuman olahan.
Pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta membatasi konsumsi gula tambahan menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan metabolisme. Dengan memahami cara kerja fruktosa di dalam tubuh, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memilih makanan sehingga risiko asam urat, hipertensi, obesitas, hingga penyakit metabolik lainnya dapat diminimalkan.











