SUMA.ID – Diabetes melitus masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia pada tahun 2026. Berdasarkan data kesehatan terbaru, prevalensi penderita diabetes di tanah air telah mencapai angka 11,7 persen. Penyakit yang sering dijuluki sebagai “The Great Imitator” ini dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh manusia jika tidak dikelola dengan tepat sejak dini.
Gejala Klasik Diabetes Melitus (4P)
Para ahli kesehatan di tahun 2026 menekankan pentingnya mengenali gejala klasik yang dikenal dengan istilah 4P. Gejala ini merupakan respons tubuh terhadap kadar gula darah yang melonjak tinggi di atas batas normal:
- Polidipsia: Rasa haus yang berlebihan dan terus-menerus meskipun sudah minum cukup air.
- Poliuria: Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama pada malam hari, akibat ginjal berusaha membuang kelebihan gula melalui urine.
- Polifagia: Rasa lapar yang ekstrem karena sel-sel tubuh tidak mendapatkan asupan energi yang cukup dari glukosa.
- Penurunan Berat Badan: Berat tubuh menyusut drastis tanpa alasan yang jelas karena tubuh mulai membakar lemak dan otot sebagai sumber energi alternatif.
Komplikasi Akut: Ancaman Darurat Medis
Komplikasi akut terjadi secara mendadak dan memerlukan penanganan medis segera karena dapat mengancam nyawa. Di tahun 2026, kasus komplikasi akut sering kali dipicu oleh ketidakpatuhan terhadap terapi insulin atau pola makan yang sangat tidak terkontrol.
- Ketoasidosis Diabetik (KAD)
Kondisi ini terjadi ketika tubuh memecah lemak terlalu cepat karena kekurangan insulin, menghasilkan zat asam bernama keton yang menumpuk di darah. Gejalanya meliputi napas berbau buah, mual hebat, hingga penurunan kesadaran. - Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS)
Sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2 usia lanjut, ditandai dengan kadar gula darah yang sangat tinggi (sering kali di atas 600 mg/dL) tanpa adanya keton yang signifikan. Dehidrasi berat dan risiko koma menjadi ancaman utama. - Hipoglikemia
Kebalikan dari kadar gula tinggi, hipoglikemia adalah kondisi gula darah terlalu rendah (di bawah 70 mg/dL). Hal ini biasanya disebabkan oleh dosis obat yang terlalu tinggi atau terlambat makan, yang memicu keringat dingin, gemetar, dan pingsan.
Komplikasi Kronis: Kerusakan Jangka Panjang
Komplikasi kronis berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun jika kadar gula darah tidak terkendali dengan baik. Kerusakan ini terbagi menjadi dua kategori utama:
Komplikasi Mikrovaskular (Pembuluh Darah Kecil)
- Retinopati Diabetik: Kerusakan pada pembuluh darah di mata yang merupakan penyebab utama kebutaan di usia produktif pada 2026.
- Nefropati Diabetik: Kerusakan fungsi ginjal yang jika dibiarkan dapat berujung pada gagal ginjal kronis dan perlunya cuci darah.
- Neuropati Diabetik: Gangguan saraf yang menyebabkan kesemutan, mati rasa, atau nyeri pada kaki dan tangan.
Komplikasi Makrovaskular (Pembuluh Darah Besar)
- Penyakit Jantung Koroner: Risiko serangan jantung meningkat drastis pada penderita diabetes.
- Stroke: Gangguan aliran darah ke otak akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
- Luka Kaki Diabetes: Infeksi pada kaki yang sulit sembuh karena sirkulasi darah yang buruk dan kerusakan saraf, yang sering kali berujung pada amputasi.
Pencegahan dan Pengelolaan di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, teknologi medis seperti Continuous Glucose Monitoring (CGM) atau sensor pemantau gula darah nirkabel telah menjadi standar baru untuk mencegah komplikasi. Dengan pemantauan secara real-time melalui ponsel pintar, penderita dapat segera mengoreksi kadar gula sebelum mencapai fase berbahaya.
Selain teknologi, gaya hidup sehat tetap menjadi kunci. Deteksi dini melalui pemeriksaan HbA1c secara rutin minimal 6 bulan sekali sangat dianjurkan bagi kelompok berisiko seperti mereka yang memiliki riwayat keluarga diabetes atau obesitas.






